MatrasNews, Jakarta – Pemerintah mempercepat pengembangan transportasi umum terintegrasi di Jabodetabek untuk menekan kemacetan yang mencapai 30%. Targetnya, sebanyak 2 juta warga beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal multimoda seperti LRT, MRT, KRL, dan Transjakarta.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub, Risal Wasal, menyatakan bahwa dari 65–70 juta perjalanan harian di Jabodetabek, hanya 2,5 juta yang menggunakan transportasi umum. “Untuk mengurangi kemacetan hingga 10%, dibutuhkan tambahan minimal 2 juta pengguna baru,” ujarnya di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Kunci keberhasilan migrasi ini, kata Risal, adalah layanan yang nyaman, aman, dan terintegrasi. Pemerintah sedang memetakan ulang jaringan transportasi, termasuk titik hub (hub and spoke) dan feeder, untuk meningkatkan konektivitas antarmoda.

Kapasitas angkutan massal juga ditingkatkan. KCI ditargetkan melayani 2 juta penumpang per hari, sementara LRT Jabodebek dan MRT Jakarta menambah rangkaian kereta. Langkah ini sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah untuk konektivitas berkelanjutan.
“Dengan efisiensi transportasi, selain kemacetan berkurang, kualitas udara juga membaik,” tegas Risal. Saat ini, indeks polusi Jakarta masih di bawah Hanoi.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan operator dinilai krusial untuk menciptakan ekosistem transportasi publik yang andal dan ramah lingkungan.












