MATRASNEWS, JAKARTA – Sanggar Silibet Jakarta Cabang Kayu Putih menggelar Gelar Budaya Tradisional Jilid Lima, sebuah agenda tahunan dalam rangkaian milad sanggar.
Pendiri Sanggar Silibet Jakarta, Ramdani, menegaskan komitmennya melestarikan potensi kesenian tradisional Betawi, khususnya di Jakarta Timur.
“Kebudayaan itu sesuatu yang dikerjakan berulang-ulang. Orang tua kita dulu mengajarkan, jangan lupa budaya Betawi. Budaya itu sebagai jantung untuk menjaga agar anak muda tidak melupakan adab, sopan santun, dan etika. Jika budaya ditinggalkan, kita akan tergerus zaman,” tegas Ramdani, Sabtu 22 November 2025.
Ia memperingatkan dampak buruk jika budaya diabaikan. Warisan leluhur, termasuk jati diri bangsa Indonesia yang terkenal dengan etika dan keragaman budayanya, bisa hilang dan diklaim oleh negara lain.
Namun, tantangan tak kecil. Perubahan pola hidup, di mana anak-anak sekolah dari pagi hingga sore, menyulitkan mereka mempelajari silat, marawis, atau ngaji. Menyikapi hal ini, Sanggar Silibet menciptakan metode latihan di waktu libur sekolah atau kerja.
“Kami ciptakan regenerasi. Salah satunya, kami tampilkan Gambang Kromong Orkestra dengan hampir 20 pemain. Kami juga tidak kaku, kami modifikasi agar menarik bagi anak muda,” ujarnya.
Menyoroti polemik Ondel-ondel yang kerap ‘ngamen’ di jalanan, sebagai Pembina Asosiasi Ondel-ondel Indonesia, Ramdani menyatakan dukung larangan asal disertai solusi.
“Jangan hanya melarang. Harus ada solusi karena ini urusan perut. Pemerintah harus menyiapkan ‘kantong-kantong’ ekspresi, seperti di 100 Pasar Jaya, mal, atau tempat pariwisata. Dengan begitu, mereka tidak perlu keliling lagi, paparnya.
Ia menekankan perlunya pengawalan ketat atas Perda dan Pergub yang sudah ada. Tanpa monitoring, aturan hanya menjadi formalitas. Sebagai contoh, meski hotel wajib memiliki ornamen Betawi, banyak yang hanya menempatkan miniatur Ondel-ondel berukuran 60 cm untuk menggugurkan kewajiban.
“Yang penting ada pengawalan. Barulah pemerintah bisa memberikan kantong-kantong tempat untuk berekspresi. Ondel-ondel juga harus ditata, dari pakaian hingga menghindari praktik yang mengganggu seperti menyemprot minyak,” pungkas Ramdani.
Harapannya, dengan sinergi yang kuat antara komunitas budaya dan pemerintah, warisan Betawi dapat lestari dan menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri.
Cek Berita lain di Google News

https://demo.pojoksoft.com/kibaran/wp-content/uploads/2024/01/230313-ayla2-160x600-v2.jpg





