Menu ✖

Breaking News

Bisnis

Dubes UEA Sebut Kemitraan dengan Indonesia Memasuki Babak Baru

badge-check

Dubes UEA Sebut Kemitraan dengan Indonesia Memasuki Babak Baru Perbesar


MATRASNEWS, JAKARTA – Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, menilai hubungan Indonesia dan UEA memiliki peluang besar untuk berkembang melalui investasi, energi bersih, perdagangan, serta ekonomi digital. Ia menyampaikan hal tersebut dalam kuliah umum President University Ambassador Lecture (PUAL) di President University, Kamis, 8 Oktober 2026.

AlDhaheri menekankan pentingnya kemitraan yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan generasi muda. Menurut dia, hubungan bilateral kedua negara yang memasuki usia 50 tahun pada 2026 perlu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Perdagangan Tumbuh Lebih dari 200 Persen

Salah satu penggerak utama hubungan ekonomi kedua negara ialah Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Indonesia dan UEA menandatangani perjanjian tersebut pada 1 Juli 2022, kemudian memberlakukannya pada 1 September 2023.

Data yang dipaparkan dalam kuliah umum itu menunjukkan nilai perdagangan barang nonmigas kedua negara meningkat dari US$1,92 miliar pada 2020 menjadi US$5,84 miliar pada 2025. Kenaikan sekitar 204,2 persen tersebut mencerminkan besarnya peluang perluasan pasar bagi pelaku usaha kedua negara.

Namun, pertumbuhan perdagangan juga menuntut peningkatan daya saing produk, diversifikasi ekspor, dan kemampuan pelaku usaha memanfaatkan akses pasar dari perjanjian CEPA.

Energi Surya Jadi Contoh Kolaborasi

Di sektor energi, kerja sama Masdar dan PLN Nusantara Power menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya terapung Cirata di Jawa Barat. Fasilitas berkapasitas 145 megawatt AC itu diresmikan pada November 2023 sebagai salah satu proyek penting dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Kedua pihak juga menjajaki peningkatan kapasitas Cirata hingga 500 megawatt serta pengembangan pembangkit surya terapung di Bendungan Jatigede, Jawa Barat. Peluang kerja sama lainnya mencakup energi panas bumi, gas alam, dan energi terbarukan di Ibu Kota Nusantara.

Pengembangan proyek tersebut menunjukkan bahwa kemitraan kedua negara tidak hanya berorientasi pada perdagangan. Investasi energi juga berpotensi mendukung transisi menuju sumber listrik yang lebih rendah emisi.

Kerja Sama Lingkungan dan Air

UEA dan Indonesia turut mendorong pelestarian lingkungan melalui Mangrove Alliance for Climate yang mereka luncurkan pada COP27 pada 2022. Aliansi tersebut telah berkembang hingga mencakup 47 negara.

Kedua negara juga mendukung pembangunan Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre di Bali melalui komitmen pendanaan UEA sebesar US$10 juta. Selain itu, inisiatif Clean Rivers memperoleh komitmen US$20 juta untuk membantu mengurangi pencemaran plastik dan mencegah sampah masuk ke sungai serta ekosistem laut Indonesia.

Dalam bidang air dan sanitasi, AlDhaheri menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. UEA dan Senegal dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 8–10 Desember 2026 di Abu Dhabi, setelah Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024.

Generasi Muda Punya Peran Strategis

AlDhaheri menilai generasi muda Indonesia dapat memperkuat hubungan bilateral melalui pendidikan, kewirausahaan, teknologi, investasi, dan pertukaran antarmasyarakat.

Kedekatan pemimpin kedua negara turut mendukung arah kemitraan tersebut. Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan hubungan erat yang sebelumnya berkembang pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

AlDhaheri menegaskan bahwa UEA ingin memperluas kolaborasi jangka panjang dengan Indonesia. Tantangan berikutnya ialah memastikan berbagai kesepakatan dan komitmen investasi mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat kapasitas industri, serta menghasilkan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Dengan demikian, momentum 50 tahun hubungan diplomatik pada 2026 tidak sekadar menjadi perayaan sejarah. Kedua negara memiliki peluang menjadikannya pijakan untuk membangun kemitraan yang lebih produktif, terutama dalam menghadapi transisi energi dan perkembangan ekonomi digital.

 

Ikuti berita terkini di Google News

 

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

LPK Naraya Bekasi Resmi Dibuka, Siapkan Talenta Hospitality dan Maritim Berstandar Internasional

10 Okt 2026 - 01:05 WIB

LPK Naraya Bekasi Resmi Dibuka, Siapkan Talenta Hospitality dan Maritim Berstandar Internasional

Promo Tiket Whoosh 10.10, Diskon hingga 50 Persen dan Potongan Rp150 Ribu

7 Okt 2026 - 02:56 WIB

Promo Tiket Whoosh 10.10, Diskon hingga 50 Persen dan Potongan Rp150 Ribu

Rumah123 Gelar PropVaganza Perdana di Pakuwon Mall Bekasi

7 Okt 2026 - 02:35 WIB

Rumah123 Gelar PropVaganza Perdana di Pakuwon Mall Bekasi

Bank DBS Indonesia dan Batavia Prosperindo Aset Manajemen Hadirkan Batavia Gold Sharia Equity USD

6 Okt 2026 - 12:40 WIB

Bank DBS Indonesia dan Batavia Prosperindo Aset Manajemen Hadirkan Batavia Gold Sharia Equity USD

Lima Tahun Merger Pelindo, Standardisasi Jadi Kunci Efisiensi

5 Okt 2026 - 02:26 WIB

Lima Tahun Merger Pelindo, Standardisasi Jadi Kunci Efisiensi
Trending di Bisnis