MATRASNEWS, JAKARTA — Ketimpangan nyata antara gelontoran miliaran dolar perusahaan Amerika Serikat dengan kesiapan adopsi inovasi domestik menjadi sorotan tajam dalam peluncuran Laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026. Di tengah ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen, data justru menunjukkan mayoritas korporasi nasional masih tertinggal dalam mengadopsi teknologi yang telah tersedia di depan mata.
Banjir Inovasi, Serapan Mandek
Laporan yang dirilis US-ASEAN Business Council (USABC) pada 16 September 2026 itu mencatat 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS dengan nilai moneter mencapai 24,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 434 triliun. Angka fantastis tersebut terwujud dalam bentuk investasi, pendanaan program, hibah, hingga nilai produksi yang menyentuh berbagai sektor strategis dari teknologi digital, energi, pertanian, hingga jasa keuangan.
Dampaknya pun terukur. Inisiatif pengembangan talenta menjangkau 10,7 juta penerima manfaat. Inovasi yang mendukung ketangguhan ekonomi menyentuh hampir 3.000 UMKM dan sekitar 8.000 konservasionis, sementara program penguatan daya saing bisnis menjangkau lebih dari 80 ribu UKM dan sekitar satu juta pengguna digital.
Laporan BISA 2026 dan Kesenjangan Inovasi
Found 20 web pages
JAKARTA — Ketimpangan nyata antara gelontoran miliaran dolar perusahaan Amerika Serikat dengan kesiapan adopsi inovasi domestik menjadi sorotan tajam dalam peluncuran Laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2026. Di tengah ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen, data justru menunjukkan mayoritas korporasi nasional masih tertinggal dalam mengadopsi teknologi yang telah tersedia di depan mata.
Banjir Inovasi, Serapan Mandek
Laporan yang dirilis US-ASEAN Business Council (USABC) pada 16 September 2026 itu mencatat 91 inisiatif inovasi dari 43 perusahaan AS dengan nilai moneter mencapai 24,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 434 triliun . Angka fantastis tersebut terwujud dalam bentuk investasi, pendanaan program, hibah, hingga nilai produksi yang menyentuh berbagai sektor strategis — dari teknologi digital, energi, pertanian, hingga jasa keuangan .
Dampaknya pun terukur. Inisiatif pengembangan talenta menjangkau 10,7 juta penerima manfaat. Inovasi yang mendukung ketangguhan ekonomi menyentuh hampir 3.000 UMKM dan sekitar 8.000 konservasionis, sementara program penguatan daya saing bisnis menjangkau lebih dari 80 ribu UKM dan sekitar satu juta pengguna digital .
Tembok Penghambat di Dalam Negeri
Namun, di balik derasnya aliran inovasi itu, muncul paradoks yang mengganggu. Survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) 2026 mengungkap 97 persen perusahaan nasional menyadari pentingnya riset dan pengembangan (RnD). Realitanya, 50 persen perusahaan belum memiliki rencana konkret untuk melaksanakannya, 28 persen masih sebatas mempertimbangkan, dan hanya 22 persen yang punya rencana jelas.
Kondisi di sektor manufaktur tak kalah memprihatinkan. Sebanyak 60 persen perusahaan masih berada pada tahap emerging dalam adopsi teknologi terbaru, dan hanya 8 persen yang telah mencapai tahap developed. Biaya tinggi, proses perizinan berbelit, dan keterbatasan talenta terampil menjadi tiga batu sandungan utama yang diakui oleh kalangan pengusaha.
Jalan Tengah dari BRIN
Menjawab kebuntuan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan skema co-development atau riset bersama bagi perusahaan asing yang hendak memperkenalkan inovasinya di Indonesia. Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastoeti Ontowirjo, menyatakan lembaganya menyediakan infrastruktur riset hingga pendanaan uji coba skala industri guna menekan biaya riset yang selama ini menjadi momok.
“Riset itu memang mahal. Oleh karenanya kami menyediakan infrastruktur riset di BRIN. Lakukanlah riset bersama dengan kami, sehingga cost untuk melakukan riset bisa teratasi,” ujar Boediastoeti dalam kesempatan yang sama.
Makna bagi Target 8 Persen
Temuan ini menjadi cermin pahit bagi ambisi pertumbuhan 8 persen. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021–2025 hanya berkisar 4,8 persen, menyisakan jarak sekitar 3,2 poin persentase yang harus dikejar. Investasi asing berbasis inovasi telah hadir, tetapi tanpa kemampuan domestik untuk menyerap dan mengembangkannya, nilai tambah maksimal dari gelontoran tersebut berisiko menguap begitu saja.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.