Advertisement Section
Header AD Image
Rollercoaster Pengangguran Satu Dekade Fluktuasi, Tantangan Kompleks dan Harapan Baru

Rollercoaster Pengangguran Satu Dekade Fluktuasi, Tantangan Kompleks dan Harapan Baru

Matras News, Jakarta – Indonesia telah melalui perjalanan penuh liku dalam upaya mengatasi pengangguran selama satu dekade terakhir. Di awal dekade, secercah harapan muncul dengan tren positif penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

Hal itu di tulis oleh Ketua Umum Relawan Perempuan dan Anak (RPA) Partai Perindo, Jeannie Latumahina kepada redaksi Matras News pada, Jumat (24/5/2024).

Namun, badai COVID-19 yang menerjang di tahun 2020 bagaikan badai dahsyat yang menjungkirbalikkan keadaan. TPT melonjak drastis, menjadi pukulan telak bagi jutaan pekerja yang kehilangan mata pencaharian.

Di tengah badai global ini, Indonesia tak sendirian. Negara-negara tetangga di Asia Tenggara pun dihadapkan pada tantangan serupa.

Namun, jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan ini, kinerja Indonesia dalam melawan pengangguran masih tertinggal.

Di ASEAN, Brunei Darussalam menjadi negara dengan TPT tertinggi, yaitu 7,2%, sedangkan Singapura menjadi negara dengan TPT terendah, yaitu 1,9%.

Meskipun menunjukkan tren penurunan, Indonesia dengan angka TPT 4,82% di Februari 2024 yang menandai angka terendah dalam satu dekade terakhir, pengangguran di Indonesia masih tergolong tinggi.

Pencapaian ini patut diapresiasi, namun tak lantas membuat kita berpuas diri. Masih banyak tantangan berat dan kompleks yang harus dibenahi agar Indonesia bisa lepas dari jeratan pengangguran.

Kesalahpahaman Keterampilan, Lapangan Pekerjaan yang Terbatas, Kesenjangan yang Menganga, dan Faktor Lainnya

Akar permasalahan pengangguran di Indonesia bagaikan benang kusut yang saling terkait erat. Kesalahpahaman antara keterampilan angkatan kerja dengan kebutuhan pasar kerja menjadi salah satu tantangan utama.

Banyak lulusan sekolah menengah dan universitas yang tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

Hal ini menyebabkan mereka kesulitan bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi.

Kurangnya lapangan kerja berkualitas akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dan minimnya investasi di sektor padat karya turut memperparah keadaan.

Lowongan pekerjaan yang tersedia seringkali tidak sesuai dengan jumlah angkatan kerja, sedangkan banyak di antara lowongan tersebut tidak menawarkan upah yang layak.

Disamping itu, terdapat kesenjangan yang menganga antara kebutuhan industri dan kemampuan pendidikan sungguh menjadi batu sandungan lainnya.

Kurikulum pendidikan yang tidak up-to-date, tidak selaras dan kurangnya relevansi akan kebutuhan industri menyebabkan tenaga kerja tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Dan balik tren penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam satu dekade terakhir, masih terdapat adanya tantangan berat dalam mengatasi pengangguran di Indonesia.

Faktor-faktor kompleks selain kesenjangan keterampilan dan lapangan kerja yang terbatas, juga turut berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran.

Kemudian juga masih terdapat diskriminasi di pasar kerja, seperti adanya diskriminasi gender, usia, dan etnis, turu menjadi batu sandungan bagi banyak pencari kerja.

Perempuan, pekerja muda, demikian juga lansia, serta kelompok minoritas telah seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan kesempatan yang lebih sedikit dalam dunia kerja.

Kurangnya informasi serta akses terhadap peluang kerja juga memperparah situasi. Dimana keterbatasan akses informasi, ketidak sesuaian atau ketidakcocokan keterampilan, serta minimnya jaringan dan koneksi, telah membuat banyak pencari kerja kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai.

Selain daripada itu rendahnya kesadaran dan motivasi dalam etos bekerja, yang dipicu oleh adanya mindset negatif, kurangnya dukungan, dan juga kualitas pendidikan serta pelatihan yang rendah, turut memperparah pengangguran.

Pencari kerja dengan motivasi rendah juga kurangnya keahlian yang dibutuhkan, semakin sulit untuk bersaing di pasar kerja.

Diluar itu masih adanya masalah geografis dan infrastruktur, seperti akses ke tempat kerja yang masih terkonsentrasi pekerjaan pada wilayah tertentu, turut menambah hambatan bagi pencari kerja, terutama di daerah terpencil.

Mengatasi faktor-faktor lain ini secara komprehensif, tentu disamping perlu upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan, adalah kunci untuk mengurangi pengangguran secara signifikan.

Penegakan hukum, edukasi, penyediaan informasi dan layanan, peningkatan kesadaran dan motivasi, perbaikan infrastruktur, dan pemerataan peluang kerja, menjadi langkah krusial untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka upaya bersama dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, dengan semangat sinergi dan kolaborasi, akan mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang bebas dari pengangguran dan penuh dengan peluang bagi semua.

Untuk semua hal diatas tentu kita perlu memiliki kesadaran dan lebih bekerjasama dalam mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat menjadi gerakan nasional mengatasi besaranya tingkat pengangguran terbuka di Indonesia tercinta.