Pertemuan bilateral ini menekankan profesionalisme sebagai fondasi utama kemitraan strategis Indonesia-Amerika Serikat.
MATRASNEWS, JAKARTA — Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Under Secretary of War for Policy Amerika Serikat Elbridge A. Colby di Kantor Kementerian Pertahanan, Selasa (11/8/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penguatan Major Defense Cooperation Partnership yang telah berjalan antara kedua negara.
Dalam pembicaraan tertutup selama dua jam itu, Sjafrie menyampaikan apresiasi atas komitmen AS yang konsisten menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik. “Kami melihat peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan sebagai prioritas utama,” ujar Sjafrie dalam pernyataan resmi setelah pertemuan.
Elbridge Colby merespons positif dengan menegaskan penghormatan Washington terhadap nasionalisme dan kedaulatan Indonesia. “Kami tidak datang dengan agenda mengintervensi. Justru profesionalisme TNI yang menjadi daya tarik utama bagi kami untuk terus berbagi pengalaman,” kata Colby.
Kesempatan bagi perwira TNI untuk mengikuti program pelatihan di lembaga-lembaga pendidikan militer AS akan terus diperluas. Menurut Sjafrie, seleksi peserta akan mengedepankan prinsip merit guna memastikan hanya personel berkompetensi tinggi yang mendapatkan kesempatan tersebut.
Selain pengembangan SDM, kedua pihak mendiskusikan peningkatan skala latihan gabungan, termasuk latihan pasukan khusus yang selama ini berjalan rutin. Namun, Sjafrie menegaskan bahwa seluruh bentuk kerja sama tetap berada dalam koridor kepentingan nasional dan tidak akan mengarah pada pembentukan pangkalan militer AS di Indonesia sebuah isu yang kerap memicu sensitivitas publik.
Sjafrie menyoroti pentingnya alih teknologi dan kemitraan industri pertahanan yang saling menguntungkan. “Kami ingin kerja sama ini tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mendukung kemandirian kami dalam membangun kapabilitas nasional,” tegasnya.
Colby mengakui bahwa AS melihat potensi besar dalam kerja sama alih teknologi, terutama di bidang sistem persenjataan dan logistik pertahanan. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap transfer teknologi akan tetap tunduk pada regulasi ekspor senjata AS yang ketat.
Kedua pihak sepakat bahwa nasionalisme, patriotisme, dan profesionalisme bukan sekadar retorika, melainkan fondasi konkret hubungan pertahanan bilateral. Sjafrie memastikan bahwa seluruh agenda kerja sama akan mengikuti ketentuan dan prosedur nasional Indonesia, termasuk penghormatan penuh terhadap kedaulatan yurisdiksi.
“Hubungan ini kami bangun dengan mata terbuka. Tidak ada yang kami tutupi, dan tidak ada yang kami korbankan dari prinsip dasar kami sebagai negara berdaulat,” ujar Sjafrie di akhir pertemuan.











Komentar ditutup.