Salah satu peserta, Sahira, siswi kelas IX, merasa lega usai menyelesaikan tes numerasi dan literasi. Melalui bahasa isyarat, ia menyampaikan, “Alhamdulillah, bisa selesai. Semoga hasilnya bagus.” Orang tua Sahira, Elis Kurniasih, menambahkan bahwa komunikasi tepat membangun kepercayaan diri anak dengan menyederhanakan TKA sebagai bagian proses belajar, bukan tekanan.
Praktik baik di SKH YKDW 2 Tangerang membuktikan pendekatan adaptif, kolaborasi sekolah-keluarga, dan kebijakan inklusif mampu menjangkau seluruh lapisan peserta didik. Pemerintah terus mendorong asesmen pendidikan yang tidak hanya mengukur capaian akademik, tetapi juga memastikan keadilan dan akses bagi semua.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











