MATRASNEWS, JAKARTA – Akses air bersih termasuk salah satu kebutuhan penting untuk menunjang kehidupan manusia yang sudah selayaknya bisa dirasakan seluruh lapisan Masyarakat Indonesia. Meski begitu, hanya 93,22% rumah tangga Indonesia yang memiliki akses sumber air minum layak menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, dengan kesenjangan akses yang masih dirasakan baik di kota maupun desa.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), capaian akses air minum layak mencapai 89,86%, dan Sumba Barat Daya sendiri sekitar 86,12% pada 2024, menggambarkan pentingnya pendampingan langsung serta bantuan pengelolaan air lebih lanjut dari hulu hingga ke hilir.
Untuk itu, proyek SEHAT Cerdas dari Wahana Visi Indonesia (WVI) hadir untuk membantu keluarga dan anak-anak di Sumba Barat Daya memperoleh air bersih dan fasilitas sanitasi dasar, serta mendukung kebiasaan hidup yang sehat.
Dilansir dari siaran pers Wahana Visi Indonesia (WVI), 18 Februari 2026, berikut adalah lima fakta penting terkait akses air di Sumba Barat Daya yang perlu disoroti:
1. Medan Kering dan Berbukit Membuat Akses Air Semakin Sulit
Topografi berbukit, kondisi geologi yang menantang, dan pasokan material teknis dari luar wilayah, membuat masyarakat semakin kesulitan dalam mengakses air bersih.
Situasi air ini berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga, terutama perempuan dan anak yang menanggung beban mengambil air, mulai dari waktu belajar berkurang, kelelahan meningkat, dan praktik hidup bersih yang sulit diterapkan. Intervensi project SEHAT CERDAS, besutan WVI memindahkan “perjalanan air” ke dalam pipa, bukan di pundak warga.
2. Dampak pada Anak: Anak Tumbuh Sehat dan Siap Sekolah
Sebanyak 2.094 orang kini mengakses titik air minum dasar di tiga desa dampingan, ditopang 17 kran umum. Untuk anak, efeknya terasa cepat: mandi rutin, berangkat tepat waktu, dan fokus belajar meningkat. Ardo, seorang anak dari kampung setempat menceritakan,
“Dulu kalau musim kering saya ikut bantu ambil air ke bawah, jalannya licin dan jauh. Sekarang air dekat, saya bisa mandi pagi dan tidak terlambat. Di kelas rasanya lebih segar, jadi lebih semangat dengar guru,” kata Ardo, seorang anak dari kampung setempat.
3. Mesin yang Bekerja di Balik Air Mengalir: Solusi Teknis yang Mengikuti kontur
Tiga sistem Jaringan Air Bersih (JAB) dibangun dengan sumur bor sebagai sumber, menggunakan pompa bertenaga surya untuk mendorong air ke bak penampung di menara, lalu distribusi dengan menggunakan gravitasi ke pemukiman melalui sekitar 8.000 meter pipa.
Kombinasi dari kedua tenaga alam memanfaatkan elevasi alami sehingga tidak perlu pompa berjenjang, dan memastikan titik kran ditempatkan pada radius yang mudah dijangkau rumah tangga.
Dengan cara ini, sistem mampu membawa air ke area permukiman meski harus melewati lereng dan jalur berbatu. Uji kualitas air dan uji laboratorium lanjutan sesuai Permenkes juga dilakukan untuk memastikan mutu air yang layak guna.
4. Tata kelola dan keberlanjutan layanan setelah pendampingan
Agar layanan tetap berjalan setelah masa pendampingan WVI berakhir, WVI bersama dengan masyarakat setempat dan perangkat desa menyusun sembilan Komite air. Komite air menerapkan iuran pengguna untuk operasional & pemeliharaan, mulai dari perawatan pompa/menara, pengecekan pipa, hingga pembukuan sederhana.
Tujuannya, untuk memastikan pengelolaan harian kembali berada di tangan masyarakat dan mendorong sikap bertanggung jawab dalam menjaga kualitas air secara mandiri.
“Wahana Visi Indonesia percaya bahwa setiap anak berhak untuk tumbuh dengan sehat dan memiliki akses air yang layak. Namun sayangnya akses air masih terasa seperti privilege di beberapa titik di Indonesia, termasuk di Sumba Barat Daya,” jelas Yacobus Runtuwene, Technical Sectors Director Wahana Visi Indonesia.
“Program SEHAT CERDAS ini menjadi solusi atas permasalahan akses air ini. Meski masa pendampingan WVI sudah berakhir, masyarakat dan pemerintah setempat sudah saling bekerja sama untuk memastikan kebiasaan hidup bersih yang terus dipraktikkan dan turut merawat akses air bersih tersebut agar fasilitas yang sudah ada, dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya,” sambungnya.
5. Perubahan di rumah tangga: toilet keluarga dan kebiasaan hidup bersih
Di tingkat rumah, WVI bersama dengan masyarakat sudah membangun 26 toilet keluarga yang dilengkapi fasilitas cuci tangan guna mendorong praktik gaya hidup bersih dan sehat seperti mandi rutin, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan penggunaan air matang.
Ketersediaan air dekat rumah juga mengurangi waktu atau tenaga mengambil air sehingga membuka peluang ekonomi baru seperti kebun sayur keluarga.
Praktik higienis ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara “akses layak” dan “air aman” secara kualitas dan keberlanjutan.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











