Menu

Mode Gelap
BTN JAKIM 2026 Ditargetkan Putar Rp200 Miliar BYD dan VinFast Rekrut 616 Tenaga Kerja Asal Subang Zulkifli Hasan Sosialisasi Program Nasional di SMAN 5 Kota Bekasi Pemerintah Rekrut 30.000 Manajer Kopdes Merah Putih Berstatus BUMN Kontrak Jangan Boros untuk Pesta Nikah, Beli Rumah Lebih Prioritas Justin Bieber Comeback di Coachella 2026, Bawa Laptop dan Nostalgia

Gaya Hidup Sehat

Anak Jadi Pelit, Apakah Akibat dari Pola Asuh dalam Keluarga

badge-check


					Anak Jadi Pelit, Apakah Akibat dari Pola Asuh dalam Keluarga Perbesar

Matrasnews.com – Perilaku anak pelit dianggap berhubungan dengan pola asuh dalam keluarga. Apakah anggapan ini sesuai dengan fakta medis,  Cek selengkapnya lewat penjelasan berikut.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa anak adalah cerminan orangtua. Oleh sebab itu, Anda harus berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku, karena anak bisa saja mencontoh hal tersebut.

Lantas, bagaimana jika sedari awal orangtua selalu mencontohkan sikap pelit di hadapan anak? Apakah hal tersebut dapat menjadi penyebab anak pelit di masa depan nanti. Yuk, cari tahu faktanya.

Dijelaskan oleh Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, pola asuh dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak menjadi pelit. Hal ini karena anak adalah peniru yang ulung.

“Pola asuh bisa saja mengarahkan anak pada sikap pelit. Sebab, anak yang masih kecil umumnya belajar berperilaku dari hal yang mereka lihat,” kata Gracia.

“Anak akan mengamati perilaku pelit dari orangtua atau orang sekitarnya, dan dapat melakukan hal yang sama” sambungnya.

Menurut Gracia, anak pelit bisa juga disebabkan karena kurangnya pemahaman dan kebiasaan berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan seperti ini bisa membuat anak kurang memahami konsep berbagi.

Selain itu, pola asuh orangtua yang selalu memenuhi keinginan anak juga dapat membuat si kecil memiliki sifat egois dan pelit. Anak akan merasa bahwa dirinya bisa memiliki semua yang diinginkan.

Ucapan orangtua, seperti: “Biarkan anak makan enak terlebih dahulu, nanti orangtuanya belakangan,” juga dapat membuat anak mengembangkan pemahaman bahwa mereka selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ini dapat memicu tumbuhnya sifat pelit dan serakah.

Kemudian, orangtua yang sering berbohong dalam urusan berbagi juga bisa membuat anak meniru hal serupa. Contohnya, saat ada tetangga yang ingin meminjam barang, Anda menjawab tidak ada. Padahal, Anda hanya tidak ingin meminjamkannya.

Intinya, jika anak sering mendengar orangtuanya berbohong mengenai urusan berbagi, hal tersebut dapat tertanam di dalam pikiran mereka. Pada akhirnya, anak mungkin melakukan hal serupa ketika dewasa.

Selain karena pola asuh, anak pelit juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini:

Karakter Psikologis

Sifat pelit anak dapat disebabkan oleh karakteristik psikologis yang berpusat pada dirinya sendiri. Pelit adalah fenomena alam dalam proses perkembangan anak dan manifestasi naluriah dari kesadaran diri. 

Perilaku anak-anak berkembang seiring pertumbuhan mereka. Pengalaman dan pemahaman yang mereka lihat, baik dari orangtua, orang lain di sekitar, atau pengalaman, dapat membangun karakteristik anak dalam hal apa pun, termasuk konsep berbagi. 

Faktor Usia

Berdasarkan Gracia, faktor lain yang dapat menjadi penyebab anak pelit adalah faktor usia. Anak yang masih kecil mungkin belum mengerti betul konsep berbagi. Oleh karena itu, saat melihat anak tidak mau berbagi mainan dengan temannya, orangtua mungkin akan langsung menilainya pelit. 

“Bisa juga karena faktor usia, masih toddler contohnya. Konsep berbagi baru mulai diajarkan pada usia ini, sehingga anak masih belajar sesuai tahap perkembangannya. Maka, wajar juga kalau masih terlihatnya pelit,” tutur Gracia.

Faktor Ekonomi Keluarga

Selain itu, faktor lain yang dapat menjadi penyebab anak pelit adalah berada di dalam keluarga dengan financial insecurity.

Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola pikir bahwa uang harus dipergunakan dengan sangat hemat dapat mengembangkan sifat pelit di kemudian hari.

Ajarkan Anak Berbagi Sejak Dini untuk Hindari Sifat Pelit

Dalam mengajarkan konsep berbagi pada anak, orangtua harus memberikan contoh yang baik. Anda bisa mulai mengajarkan anak konsep berbagi dengan memulainya dari keluarga sendiri. Contohnya, mengajarkan kakak untuk berbagi makanan kepada adik.

Kemudian, saat ada tamu di rumah, Anda bisa meminta tolong anak untuk membantu menyiapkan makanan atau minuman. 

Orangtua juga harus memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk bermain dengan teman sebayanya. Hal ini membuatnya dapat belajar konsep berbagi dengan saling bertukar mainan dengan teman-temannya. 

Jika ada kesempatan, orangtua juga bisa melibatkan anak dalam kegiatan sosial. Dengan demikian, anak bisa belajar berbagi sesuatu kepada orang yang membutuhkan.

Mengajarkan konsep berbagi sejak dini sangat penting untuk mencegah anak mengembangkan sifat pelit. 

Matrasnews.com / KD

Baca Lainnya

Kemenkes Luncurkan Program Titian, Percepat Lulusan Psikolog Klinis untuk Puskesmas

14 April 2026 - 00:04 WIB

Mengenal dan Mencegah Penyakit Metabolik pada Lansia, Ini Kata dr. Dhea RS Karunia Kasih

15 Maret 2026 - 01:54 WIB

Mengenal dan Mencegah Penyakit Metabolik pada Lansia, Ini Kata dr. Dhea RS Karunia Kasih

dr. Johny Berikan Pemaparan Kesehatan Penurunan Fungsi Kognitif dan Demensia pada Lansia

15 Maret 2026 - 01:18 WIB

Dr. Johny Berikan Pemaparan Kesehatan Kognitif Kepada 101 Lansia di Bekasi

Usia ke-7 Tahun, RSUD Jatisampurna Komitmen Meningkatkan Layanan Kesehatan

15 Maret 2026 - 00:27 WIB

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jatisampurna

RSUD Jatisampurna Edukasi Lansia Cegah Keropos Tulang dan Nyeri Sendi

14 Maret 2026 - 19:22 WIB

Trending di Gaya Hidup Sehat