Menu

Mode Gelap
60 Ribu Calon Mahasiswa Baru Tidak Daftar Ulang Pelabuhan Patimban Buka Babak Baru sebagai Gerbang Logistik Global SOIna: Gelar Penggalangan Dana untuk Atlet Disabilitas Matras News dan Pullman Jakarta Central Park Perkuat Sinergi Media Jakarta Gaungkan SDGs Lewat Museum, Target 2030 Makin Dekat Pertamina Patra Niaga Kerek Turun Harga Bright Gas, Insentif Konsumen di Tengah Dinamika Pasar

News

Cegah Karhutla, Menteri LHK Undang Penyuluh Kehutanan Apel Siaga dan Temu Teknis

badge-check

Cegah Karhutla, Menteri LHK Undang Penyuluh Kehutanan Apel Siaga dan Temu Teknis Perbesar

Matras News – Para Penyuluh Kehutanan se-Indonesia hadir dalam apel siaga bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, baik secara faktual dan virtual pada Rabu (15/6) di Plaza Manggala Wanabhakti Jakarta.

Dalam Sambutannya Menteri LHK, Siti Nurbaya, mengatakan,”deforestrasi di Indonesia mencapai penurunan hingga 78% hingga penurunan gas karbondioksida yang disumbang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpengaruh terhadap perubahan iklim.

“Peran penyuluh kehutanan dalam upaya penyadartahuan kepada masyarakat sangat penting, terutama dalam pencegahan karhutla. Saya sangat memahami jumlah penyuluh kehutanan saat ini baik ASN dan swadaya masyarakat masih belum mencukupi, jika dibandingkan dengan luasan kawasan hutan namun kita semua harus tetap semangat, bersama-sama dan berkesinambungan untuk terus berupaya memberikan penyadartahuan kepada masyarakat dalam segala aspek, salah satunya kebakaran hutan dan lahan, banjir dan longsor,” kata Siti Nurbaya.

Selanjutnya, Penyuluh Kehutanan ikut dalam temu teknis dalam menghadapi karhutla, banjir dan longsor. Dalam acara temu teknis dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama diisi dua orang narasumber yaitu R. Basar Manullang, Direktur Pengendalian Karhutla dan Agus Salim, Daops Manggala Agni Muara Bulian Jambi.

Basar menyampaikan” penyebab utama karhutla yang terjadi 99% adalah manusia, diantaranya pembukaan lahan dengan cara dibakar, pembakaran hutan secara sengaja dan ada pula bekas api unggun yang belum padam.

“Sejak 2016 sampai 2022, luasan dan frekuensi terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan strategi pencegahan menjadi prioritas utama dalam pengendalian, dengan cara memberikan penyadartahuan dengan sosialisasi dan kampanye,”ucap Basar.

Ia menambahkan, Manggala Agni di lapangan juga memberikan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat seperti pembuatan arang dan briket.

(her)

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

SOIna: Gelar Penggalangan Dana untuk Atlet Disabilitas

17 Juli 2026 - 06:59 WIB

Pertamina Patra Niaga Kerek Turun Harga Bright Gas, Insentif Konsumen di Tengah Dinamika Pasar

16 Juli 2026 - 01:02 WIB

Stasiun Pengisian Daya BRT Bandung Mulai Dibangun, Hibah dari Korsel

16 Juli 2026 - 00:59 WIB

Krisis Lahan TPU Jatisari Kian Kritis, Dinas Perkimtan Kota Bekasi Siapkan Strategi Darurat

16 Juli 2026 - 00:47 WIB

Kejari Kota Bekasi Tahan Kabid Pasar Tersangka Pungli MCK Bantargebang

15 Juli 2026 - 18:20 WIB

Trending di News