Fokus pada Proyek Konkret dan Transisi Berkeadilan
Program ini akan mendukung proyek-proyek di sektor energi terbarukan, air dan sanitasi, pengelolaan sampah, serta transportasi berkelanjutan. Sektor-sektor tersebut dipilih karena menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan rendah karbon Indonesia.
KINETIK juga menekankan aspek transisi energi yang berkeadilan (just transition). Program ini memastikan perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat terpinggirkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga peserta aktif yang merasakan manfaat dari ekonomi hijau. Pendekatan ini mengintegrasikan prinsip Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) di seluruh lini program.
Tiga Investasi Awal Senilai Rp1 Triliun
Pada acara peluncuran, diumumkan tiga investasi perdana yang menunjukkan komitmen nyata kemitraan ini.
1. Energi Terbarukan (USD 35 juta): Dana dari KINETIK Affirma Capital Climate Transition Fund melalui Private Infrastructure Development Group (PIDG) mengalir ke Bright Nusantara Energy. Perusahaan ini mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan surya berkapasitas total 30 megawatt di Sumatera Barat, Gorontalo, dan Lombok Timur.
2. Ekonomi Sirkular (USD 13 juta): Investasi melalui Australian Development Investments (ADI) ke Circulate Capital Asia Fund II yang mendukung perusahaan rintisan solusi daur ulang dan pengelolaan sampah di Indonesia.
3. Pertanian Berkelanjutan (USD 16,65 juta): Bentuk investasi filantropi dan publik Australia melalui ADI untuk Asia Climate-Smart Landscape Fund, yang membiayai perusahaan di bidang pertanian berkelanjutan, agroforestri, dan akuakultur.
Direktur Jenderal Herman menyatakan harapannya agar kemitraan ini memperkuat kebijakan pembiayaan berkelanjutan dan memperluas akses pendanaan untuk mitigasi serta adaptasi perubahan iklim.
“Dengan PIDG dan investasi AUD 50 juta, kita tidak hanya mendanai proyek. Keberhasilan pelaksanaan komitmen ini akan menunjukkan bahwa pembiayaan iklim itu layak secara finansial, dapat diperluas, dan inklusif,” tegas Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan, dalam kesempatan terpisah terkait peluncuran dana KINETIK.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.