MATRASNEWS, JAKARTA — Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghasilkan sejumlah kemitraan dan inisiatif untuk mendorong investasi hijau, mempercepat transisi energi, serta memperkuat ekonomi sirkular. Salah satu peluang yang mengemuka ialah investasi hingga Rp13 triliun dalam lima tahun untuk pengembangan multiusaha kehutanan berkelanjutan.
Forum bertema Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World itu berlangsung pada 6–7 Oktober 2026 di Jakarta. Pemerintah, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, dan mitra internasional membahas peluang pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan agenda keberlanjutan.
Energi Terbarukan dan Industri Hijau
Dalam forum tersebut, The Climate Group dan PT PLN (Persero) menandatangani nota kesepahaman untuk mengkaji kebutuhan listrik hijau perusahaan melalui program RE100 Corporate Green Power Demand Research and Analysis.
Kerja sama ini bertujuan mempertemukan permintaan energi terbarukan perusahaan global dengan pengembangan solusi listrik hijau di Indonesia. Inisiatif tersebut juga mendukung rencana pengembangan kapasitas energi surya baru sebesar 100 gigawatt pada 2030.
ISF 2026 juga mencatat langkah Asia Pulp & Paper (APP) Group yang bergabung dengan RE100. Keanggotaan itu menjadikan APP sebagai perusahaan Indonesia pertama dalam inisiatif global yang mendorong penggunaan energi terbarukan oleh perusahaan.
Sementara itu, Rantai Tekstil Lestari (RTL) dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) membangun kemitraan untuk memperkuat praktik ekonomi sirkular dalam industri tekstil dan garmen. Kolaborasi mereka mencakup advokasi kebijakan, pengembangan kapasitas, pengukuran kemajuan, serta pertukaran pengetahuan.
Kehutanan dan Rumput Laut Jadi Sasaran Investasi
Di sektor kehutanan, inisiatif From Forests to Future mendorong pengembangan model usaha yang menggabungkan aspek ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Program tersebut mencatat lima lanskap percontohan dan 21 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang telah teridentifikasi untuk pengembangan lanjutan. Inisiatif ini juga memiliki pipeline sekitar 128.000 hektare dengan peluang investasi hingga Rp13 triliun dalam lima tahun.
Di sektor kelautan, ISF meluncurkan Indonesia Seaweed Inc Country Platform. Inisiatif UNRCO dan APINDO ini bertujuan menghubungkan budidaya rumput laut, pengolahan, akses pasar, dan pembiayaan agar menghasilkan proyek yang layak memperoleh investasi.
Platform tersebut melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), APINDO, dan Bappenas, dengan dukungan sejumlah lembaga keuangan serta organisasi konservasi. Pengembangan proyek yang bankable menjadi salah satu fokus untuk memperluas pembiayaan dan meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut.
ISF Mengimbangi Emisi Penyelenggaraan
Komitmen keberlanjutan juga mencakup operasional forum. Bank Mandiri menyerahkan sertifikat kredit karbon untuk mengimbangi emisi penyelenggaraan ISF 2026 sebanyak 209 ton setara karbon dioksida (CO₂e).
Kredit karbon tersebut berasal dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.
Ketua Panitia ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik pendanaan dan memperluas kolaborasi dalam agenda keberlanjutan. Namun, ia menekankan pentingnya menyiapkan proyek yang layak didanai serta sumber daya manusia yang kompeten.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin, Shinta W. Kamdani, menilai keberhasilan forum tidak cukup diukur dari kesepakatan yang diumumkan. Menurut dia, tindak lanjut, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan jangka panjang menentukan kemajuan nyata setelah forum berakhir.
Tantangan Beralih dari Komitmen ke Pelaksanaan
Rangkaian hasil ISF 2026 menunjukkan peluang investasi berkelanjutan tersebar di berbagai sektor, mulai dari energi dan tekstil hingga kehutanan dan kelautan. Namun, pengumuman kemitraan dan besarnya potensi pendanaan belum otomatis menjamin realisasi proyek.
Tahap berikutnya membutuhkan kepastian pembiayaan, kesiapan teknologi, dukungan kebijakan, serta keterlibatan masyarakat. Dengan langkah tersebut, komitmen yang lahir di ISF diharapkan berkembang menjadi investasi nyata, penciptaan nilai ekonomi, dan manfaat lingkungan jangka panjang.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.