MATRASNEWS, JAKARTA – Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin, menyoroti kondisi madrasah di ibu kota yang dinilainya masih termarjinalkan dalam sistem pendidikan. Ia menggambarkan keadaan lembaga pendidikan keagamaan itu dengan istilah “hidup segan mati tak mau”.
“Madrasah kita seperti anak tiri. Muridnya sedikit, banyak yang tidak mampu bayar, dan gaji gurunya sering kali tidak menentu,” ujar Khoirudin saat menggelar open house di Jakarta Pusat, Kamis (26/3/2026).
Menurut politikus tersebut, keterbatasan jumlah murid dan dominasi siswa dari kalangan kurang mampu menjadi persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Kondisi ini diperparah dengan ketidakpastian kesejahteraan tenaga pendidik di lingkungan madrasah.
Khoirudin menegaskan bahwa pendidikan merupakan kewajiban negara dan hak seluruh warga yang tidak boleh dibedakan. Ia mengingatkan, seluruh warga Jakarta berkontribusi melalui pajak, sehingga seharusnya akses layanan pendidikan merata tanpa diskriminasi antara sekolah negeri, swasta, maupun madrasah.
“Semua warga Jakarta bayar pajak. Seharusnya layanan pendidikan tidak membeda-bedakan antara negeri, swasta, maupun madrasah,” tegasnya.











