Menu ✖

Breaking News

Bisnis

Membangun Bantalan Hidup Keluarga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

badge-check

FOTO: Kemas Achmad Yani Aziz adalah praktisi senior industri asuransi Indonesia Perbesar

FOTO: Kemas Achmad Yani Aziz adalah praktisi senior industri asuransi Indonesia

Salah satu indikator paling gamblang dari rapuhnya pondasi finansial keluarga adalah rendahnya penetrasi asuransi. Data Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026 menunjukkan total premi asuransi jiwa hanya tumbuh 0,12 persen secara tahunan. Tingkat penetrasi asuransi Indonesia terhadap PDB masih 2-3 persen, jauh di bawah Malaysia dan Thailand yang mencapai 5 persen. Hanya tiga dari sepuluh penduduk Indonesia yang memiliki perlindungan asuransi di luar BPJS Kesehatan.

Kemas menilai akar persoalan bukan pada produk, melainkan pada cara komunikasi industri. “Banyak orang ingin melindungi keluarganya, tetapi mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa, takut ditipu, atau bingung membaca kontrak. Itu masalah komunikasi, bukan masalah produk,” tegasnya.

Menurutnya, maraknya jeratan pinjaman online ilegal tidak terjadi karena keserakahan, melainkan karena ketiadaan pilihan. “Kalau ada proteksi yang sederhana dan terjangkau, separuh dari kasus pinjol ilegal mungkin tidak akan pernah terjadi.”

Kemas memberikan tiga prinsip praktis untuk setiap keluarga. Pertama, pastikan dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin sebelum berbicara tentang investasi. Kedua, lindungi pencari nafkah lebih dulu sebelum melindungi aset. Ketiga, pahami bahwa asuransi adalah biaya untuk tidur nyenyak, bukan instrumen investasi.

“Anda membayar premi, dan sebagai gantinya Anda tahu bahwa kalau besok terjadi sesuatu, keluarga Anda tidak akan terjun bebas. Bukan janji untung, bukan janji kaya, hanya janji bahwa Anda tidak sendiri ketika hal terburuk terjadi,” ujar lulusan Magister Hukum Universitas Krisnadwipayana ini.

Ia menambahkan, industri asuransi perlu menyederhanakan bahasa kontrak, mempercepat klaim, dan melatih pemasaran untuk mendengarkan kebutuhan nasabah. Pemerintah pun harus memasukkan pendidikan pengelolaan keuangan keluarga ke dalam kurikulum sekolah dan program pemberdayaan masyarakat.

“Kita tidak bisa mengontrol perang di Eropa, tidak bisa mengontrol harga komoditas dunia. Tetapi kita bisa mengontrol satu hal: apakah keluarga kita siap menghadapi yang tidak terduga. Itu satu-satunya kemewahan yang masih terjangkau di tahun yang serba tidak pasti seperti sekarang,” pungkasnya.

Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.

 

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Pelindo Perkuat integrasi infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi

12 Okt 2026 - 00:27 WIB

Pelindo Perkuat integrasi infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi

Gangguan Layang-layang di Jalur Whoosh Turun 65 Persen

12 Okt 2026 - 00:24 WIB

Gangguan Layang-layang di Jalur Whoosh Turun 65 Persen

HILLSI Kota Bekasi Latih Warga Membuat Buket, Dorong Kemandirian Ekonomi

10 Okt 2026 - 14:16 WIB

HILLSI Kota Bekasi Latih Warga Membuat Buket, Dorong Kemandirian Ekonomi

Dubes UEA Sebut Kemitraan dengan Indonesia Memasuki Babak Baru

10 Okt 2026 - 11:39 WIB

Dubes UEA Sebut Kemitraan dengan Indonesia Memasuki Babak Baru

LPK Naraya Bekasi Resmi Dibuka, Siapkan Talenta Hospitality dan Maritim Berstandar Internasional

10 Okt 2026 - 01:05 WIB

LPK Naraya Bekasi Resmi Dibuka, Siapkan Talenta Hospitality dan Maritim Berstandar Internasional
Trending di Bisnis