Matras News – “Mena” merupakan regu pendayung di depan perahu, sedangkan “muria” merupakan regu pendayung bagian belakang. Regu depan meneriakkan “Mena” yang disahut regu belakang dengan “Muria”.
Dua kata ini memiliki makna yang mendalam untuk mendayung bersama dalam menjalin kebersamaan, soliditas, saling mendukung dan menguatkan, mendayung untuk menuju sebuah tujuan bersama.
Mena dan Muria memang hanya dua kata tapi memiliki seribu makna sesuai konteks, yang juga mengandung warisan nilai kearifan lokal yang selalu actual dan relevan dalam segala zaman.
Untuk itu, Mena Muria digunakan sebagai slogan gerakan politik, nama organisasi, nama media, nama klub bola, nama grup music dan sebagainya. Namun, yang fenomenal Mena Muria sebagai slogan politik dan nama media organ Sarekat Ambon.
Makna filosofis Mena Muria yang sangat dalam ini menyebabkan Mena Muria bisa menjadi identitas, slogan, organisasi dan sebagainya.
Dalam konteks organisasi pergerakan Maluku, Mena Muria digunakan pada tahun 1913. 𝘝𝘦𝘳𝘦𝘦𝘯𝘪𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘷𝘢𝘯 𝘈𝘮𝘣𝘰𝘯𝘯𝘦𝘦𝘻𝘦𝘯 𝘔𝘦𝘯𝘢 𝘔𝘰𝘦𝘳𝘪𝘢 (Persatuan Orang Ambon Mena Muria) dibentuk pada 31 Maret 1913 di Semarang, kemudian pindah ke Magelang yang dipimpin A. Pattinasarani.
Organisasi Mena Muria di Jawa Tengah ini bertujuan untuk memajukan peradaban material dan moral penduduk Seram, terutama melalui koperasi rakyat. Mena Muria dalam waktu singkat berhasil memiliki 1.000 orang yang bergabung menjadi anggota.
Keberadaan organisasi Mena Muria di Jawa Tengah ini merupakan organisasi kedua orang Ambon, karena sebelumnya telah berdiri 𝘝𝘦𝘳𝘦𝘦𝘯𝘪𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘈𝘮𝘣𝘰𝘯𝘴𝘤𝘩-𝘴𝘵𝘶𝘥𝘪𝘦𝘧𝘰𝘯𝘥𝘴 (Organisasi Dana Pendidikan Ambon) yang dipelopori Willem Karel Tehupeiori, yang baru pulang ke Batavia setelah menyelesaikan studi dokter Eropa di Belanda.
Jadi, setelah kembali dari Belanda, WK Tehupeiori berhasil menghimpun orang Ambon di kediaman LPG Risakotta di Kwitang pada Jumat, tanggal 24 September 1909.
Dalam pertemuan itu disepakati untuk mendirikan perkumpulan yang bertujuan untuk membantu pemuda Ambon dalam hal pendidikan dan studi.
Pertemuan itu juga berhasil memilih pengurus 𝘈𝘔𝘉𝘖𝘕 𝘚𝘛𝘜𝘋𝘐𝘍𝘖𝘕𝘋𝘚, yang terdiri dari JA. Soselisa yang merupakan Panitera Pertama di Departemen Perusahaan Pemerintah sebagai Presiden.
P. Kuhuwael seorang karyawan di perusahaan Erdmann dan Sielcken sebagai Wakil Presiden; H. Pesoelima, Panitera III di Kantor Audit Umum sebagai Sekretaris-Bendahara.
Sedangkan sebagai anggota pengurus terdiri dari: D.J. Siahaija seorang dokter pribumi. W. Soselisa, Panitera ke-3 di Departemen Layanan Medis dan JMM Hetharia, Panitera ke-3 di Kantor Umum Badan Pemeriksa Keuangan.
Namun, Organisasi Ambon Studifonds tidak serta merta segera beroperasi, sebab Pemerintah Hindia Belanda baru menyetujui atau mengesahkan Anggaran Dasar melalui Keputusan Nomor 32 tanggal 14 Januari 1911, sehingga organisasi Ambon Studifonds secara sah sebagai organisasi berbadan hukum. Dengan status ini,
Ambon Studifonds mulai menerbitkan majalah bulanan “Persekoetoean” pada 15 Juli 1911, setelah didahului dengan edisi percontohan pada 6 Mei 1911.
Ambon Studifonds juga segera berkembangkan ke berbagai tempat, termasuk di Ambon, Nusalaut dan Saparua.
Ambon Studifonds berhasil mendirikan yang dimulai pada 13 November 1911 bagi anak-anak di Ambon.
Kemudian, disusul sebuah sekolah berbahasa Belanda berhasil didirikan di Nusalaut atas jasa Raja Negeri Abubu, J. Manusama dan berada di bawah Afdeeling Ambon Studifonds Nusalaut pada tanggal 30 Maret 1912. Selain itu, organisasi ini sangat cepat berkembang di berbagai tempat.
Oleh : Jacob E. Kaya











Komentar ditutup.