Matrasnews.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno secara konsisten terus berupaya mengangkat potensi desa wisata melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi.
Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, yang menargetkan 244 desa wisata maju, mandiri, dan tersertifikasi desa wisata berkelanjutan pada Tahun 2024.
Ia menyebut, desa wisata memiliki potensi besar untuk menarik minat wisatawan, juga membuka lapangan pekerjaan, dan peluang usaha baru ekonomi kreatif, sehingga dapat menjadi alternatif ketahanan perekonomian Indonesia.
“Selain itu secara ekonomi, desa wisata juga sudah memiliki karakter mandiri sejak sebelum pandemi. Terbukti, 89,6% masyarakat di desa wisata masih memiliki pekerjaan pokok di luar pariwisata seperti petani, pekerja swasta, pengrajin, dan lainnya, sehingga berpotensi pemulihan lebih cepat,” kata Sandiaga Uno saat membuka “Rapat Koordinasi & Kick Off Pendampingan SDM Desa Wisata” di Jakarta, Kamis (20/1).
Menurutnya, SDM merupakan unsur terpenting dalam pengembangan desa wisata, dimana perannya bukanlah obyek melainkan pelaku utama sekaligus tuan rumah.
“Sehingga diperlukan pendekatan agar masyarakat berpartisipasi aktif dalam menumbuhkembangkan desa wisatanya dengan cepat dan berkelanjutan,” terangnya.
Dalam upaya membentuk SDM desa wisata yang kompeten, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkolaborasi dengan 16 Komunitas/Asosiasi dan 20 Akademisi/Perguruan Tinggi.
Adapun program yang akan dilakukan melalui pendekatan live-in dan coaching, untuk meningkatkan awareness, wawasan, dan skill, serta mendorong transformasi masyarakat agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada wisatawan sesuai tren perilaku dan kebiasaan baru di masa pandemi saat ini, terutama dalam penerapan CHSE (clean, health, safety, and environment) dan pemanfaatan teknologi digital.
Menteri Sandi mengapresiasi atas ketersediaan para komunitas/asosiasi dan perguruan tinggi yang bersedia bersama-sama dalam meningkatkan kualitas dan daya saing SDM yang lebih kreatif dan inovatif, serta mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi desa wisata.
“Saya meyakini bahwa desa wisata ini game changer, dan merupakan suatu peluang kebangkitan Indonesia pasca pandemi Covid-19,” ucap Sandiaga Uno.
Dikesempatan yang sama, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya mengatakan, program pendampingan SDM desa wisata ini merupakan kelanjutan program sama yang sempat tertunda di tahun 2021 lalu dikarenakan refocussing anggaran.
Adapun tujuan dari Pendampingan SDM Desa Wisata ini antara lain, meningkatkan kompetensi SDM desa wisata di sektor pariwisata (pengelolaan homestay, pemandu wisata dan tata kelola desa wisata), meningkatkan kemandirian desa wisata sebagai destinasi pariwisata, mengembangkan potensi SDM desa wisata agar mampu berkembang secara mandiri.
“Selanjutnya, mendorong kreatifitas masyarakat desa dalam melakukan pembaruan-pembaruan dengan tetap memiliki keunikan, dan ciri khas berbasis kearifan lokal,” kata Wisnu.
Program pendampingan ini akan dilaksanakan secara serentak di 87 desa wisata di 17 Provinsi dan 53 Kabupaten di Indonesia dengan 174 pendamping dan 28 orang Koordinator dari Komunitas/Asosiasi.
Program Pendampingan SDM desa wisata ini rencana akan dimulai di bulan Februari-Maret 2022.
Adapun ke-16 komunitas/asosiasi yang turut membantu progrM pendampingan SDM Desa Wisata antara lain, AELI, ASIDEWI, ASPPI, ASPRINDO, Berbangsa Foundation, CAVENTER, Desa Wisata Institute, East Java Ecotourism Forum, Exovillage, IHGMA, INDECON, IVENDO, MASATA, Panorama Foundation, Sociopreneur Indonesia, dan Vontripo.com.
Untuk 20 perguruan tinggi antara lain, STP Riau, Akademi Pariwisata Mandala Bhakti, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Fajar, Politeknik Internasional Bali, STP Trisakti, Universitas Negeri Padang, Politeknik Sahid, STIMI Handayani Denpasar, Universitas Riau, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, STP Mataram.
Selanjutnya, Poltekpar Bali, Institut STIAMI, Universitas Dian Nuswantoro, Poltek Balikpapan, Politeknik Negeri Sambas, STIPAR Tamalatea – Makassar, Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA, Universitas Syiah Kuala.
(her)











