“Jika lahan terbatas, masyarakat bisa diajak menanam cabai atau sayuran dengan sistem hidroponik. Itu tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik,” jelasnya.
Selain mengandalkan anggaran daerah yang dinilai terbatas, Yenny berencana menjalin kemitraan dengan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membiayai pelatihan dan pengembangan bibit.
“Kami tidak bisa hanya menunggu dan pasrah. Saya akan bergerak mencari sponsor dan CSR agar program pemberdayaan ini bisa berjalan. Saya mulai bergerak perlahan, karena saya melihat ada keinginan dari warga untuk bergotong royong,” tambahnya.
Yenny juga menyoroti program-program yang dianggap gagal atau tidak tepat sasaran, seperti budidaya ayam petelur dan perikanan yang pernah berakhir tanpa hasil maksimal. Untuk itu, ia meminta adanya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Di sisi lain, ia mengapresiasi program bank sampah yang berjalan di sejumlah RW, seperti di RW 13 dan RW 14, yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Namun, ia mengkritik inkonsistensi kebijakan di mana syarat infrastruktur bank sampah kerap terhambat tanpa tindak lanjut yang jelas dari pemerintah kota. “Saya berharap pemerintah kota bisa lebih konsisten. Jangan sampai masyarakat sudah punya inisiatif, tetapi tidak ada dukungan dari pemerintah,” tegasnya.
Ikuti berita terkini di Google News












Komentar ditutup.