MATRASNEWS, JAKARTA – Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) kembali menggelar Dialog Industri Otomotif Nasional untuk kelima kalinya di area Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin (10/2). Mengusung tema “Insentif EV Dihapus, Kemana Arah Masa Depan Industri Otomotif di Indonesia?”, forum tahunan ini sejak 2024 menjadi ruang strategis diskusi pelaku industri, pengamat, Agen Pemegang Merek (APM), dan media.
Ketua Tim Kerja KBLBB Kementerian Perindustrian, Patia Jungjungan Monangdo, hadir sebagai keynote speaker. Diskusi panel menghadirkan Rudy MF (Dyandra Promosindo), Pengamat Ekonomi Perbanas Josua Pardede, Deputy CEO VinFast Indonesia Davy Jeffry Tuilan, Sales Director Geely Auto Indonesia Constantinus Herlijoso, serta Business Strategy Head Isuzu Indonesia Rian Erlangga.
Kontras Pasar dan Ancaman Stagnasi
Pemilihan tema merespons kontras pasar 2025. Secara agregat, penjualan kendaraan bermotor turun akibat daya beli melemah. Namun segmen Battery Electric Vehicle (BEV) justru melonjak 141 persen—dari 43 ribu unit (2024) menjadi 104 ribu unit (2025). Total pasar EV nasional mencapai 175 ribu unit atau tumbuh 70 persen.
Lonjakan ini disebut sebagai buah insentif fiskal. Sayangnya, per 31 Desember 2025, sebagian insentif seperti PPN DTP 10 persen serta bea masuk 0 persen untuk CBU dan CKD resmi berakhir. Pemerintah hanya melanjutkan insentif non-fiskal: PKB, BBNKB, dan PPnBM 0 persen.
Ekosistem vs Insentif
Menghadapi fase baru, VinFast Indonesia mengandalkan ekosistem terintegrasi—dari pabrikan, distribusi, operator taksi (Green SM), hingga infrastruktur charging (V-Green). “Keunggulan kami ada di kekuatan ekosistem, bukan sekadar harga atau insentif,” ujar Davy Jeffry Tuilan.
Geely Auto Indonesia menegaskan komitmennya sebagai investor langsung. Dengan teknologi Horse Powertrain hasil kolaborasi Renault, Geely memperkenalkan Boyue ER-EV berdaya jelajah 375 km (listrik murni) dan 1.575 km (kombinasi). Constantinus Herlijoso menyoroti perlunya kepastian kebijakan lintas kementerian demi menjaga iklim investasi.
Insentif Bersyarat: Jalan Tengah
Pengamat Ekonomi Perbanas, Josua Pardede, menilai ruang fiskal pemerintah kian terbatas—defisit APBN mendekati 3 persen PDB. Tiga skenario dipetakan: penghentian total, perpanjangan penuh, atau insentif bersyarat berbasis TKDN dan pembeli pertama. “Opsi terakhir paling realistis,” katanya.
Ketua Umum ICMS, Munawar Chalil, menegaskan forum ini adalah ruang netral dan konstruktif. “Kami ingin menjaga kesinambungan industri otomotif nasional, sekaligus mengejar target 600 ribu unit EV pada 2030 dan net zero emission 2060.”
Dialog tahun ini didukung VinFast Indonesia, Toyota Astra Motor, dan Geely Auto Indonesia.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











