Matrasnews.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan ada 902 warga yang telah mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu (4/12/2021).
“Berdasarkan data BPBD Kabupaten Lumajang, sebanyak 305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo,” Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari Minggu (5/12).
Abdul menuturkan kejadian sebaran awan panas guguran Gunung Semeru juga menyebabkan beberapa rumah warga tertutup material vulkanik serta jembatan Gladak Perak di Curah Kobokan yang menjadi akses penghubung Lumajang dan Malang terputus. Menurutnya, BPBD Kabupaten Lumajang menggunakan alat berat wheel loader untuk membuka akses jalan Curah Kobokan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa korban meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru mencapai 14 orang pada Minggu (5/12) per Pukul 17.30 WIB. Namun ada lima yang belum diidentifikasi.
“Jumlahnya bertambah satu orang dari pengumuman tadi siang,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaa BNPB Abdul Muhari saat konferensi pers virtual, Minggu (5/12).
Dia juga menyampaikan, korban luka berat mencapai 35 orang. Sedangkan luka ringan 21 orang. Maka, total 56 orang.
Namun, ia menyampaikan bahwa belum ada posko terpadu tanggap darurat. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta agar posko terpadu dibentuk malam ini.
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan bahwa pemantauan terhadap erupsi susulan Gunung Semeru masih dilakukan. Pasalnya tingkat kegempaan yang normal dan kabut yang menghalangi upaya pemantauan visual aktivitas Gunung Semeru membuat erupsi yang terjadi pada Sabtu (4/12) tidak dapat diprediksi.
Pengamatan yang dilakukan PVMBG menggunakan 2 metode. Pertama, secara visual baik kasat mata maupun via teknologi CCTV. Kedua, menggunakan alat-alat pendeteksi di sekitar lokasi gunung.
(red)











