MATRASNEWS, JAKARTA – Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia telah bertransformasi dari sekadar kewajiban kepatuhan menjadi faktor strategis yang memengaruhi arus investasi, akses pembiayaan, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Hal ini mengemuka dalam Seminar Publik “Management & Environmental Social Governance” yang digelar Universitas Paramadina bersama Kyoto University dan LLDIKTI III di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Associate Professor Kyoto University, Akihisa Mori, Ph.D., menyatakan investor memiliki peran kunci dalam mendorong transisi perusahaan menuju bisnis berkelanjutan. Perubahan menuju ekonomi hijau akan berlangsung lebih cepat jika investasi rendah karbon terbukti kompetitif. Tekanan ini diperkuat oleh regulasi global seperti EU Taxonomy dan CSRD yang menuntut transparansi strategi keberlanjutan perusahaan.
Indonesia memiliki fondasi regulasi kuat, mulai dari UUD 1945 hingga POJK 51/2017, namun tantangan terbesar terletak pada implementasi dan harmonisasi kebijakan.
Dr. Diin Fitri Ande, S.E., M.M., menyoroti paradoks transisi energi Indonesia: sebagai produsen utama nikel untuk baterai kendaraan listrik, proses produksinya masih menghadapi persoalan lingkungan dan ketergantungan pada energi fosil.











Komentar ditutup.