Menu

Mode Gelap
Trans Bekasi Keren Resmi Beroperasi, Rute Terminal Bekasi dan Harapan Indah Pemerintah Tegaskan Peran Keluarga dan Karakter Kunci Hadapi Dampak Digital BWH Hotels Indonesia Rayakan Harmoni Imlek dan Ramadan 2026 dengan Kampanye “Celebrating Togetherness” Gubernur Banten Tegaskan Pers Sebagai Pilar Demokrasi dan Mitra Strategis Pembangunan Hadiri Baksos di Glodok, Wamen Ekraf Beri Pesan Harmoni Lintas Agama Jelang Imlek 2026 Sambut Ramadan, Citadines Antasari Jakarta Hadirkan “Aladdin”

Seni & Budaya

Gapura Bajang Ratu Situs Peninggalan Kerajaan Majapahit

badge-check


					Gapura Bajang Ratu Situs Peninggalan Kerajaan Majapahit Perbesar

Matras News – Nama Bajang Ratu pertama kali disebut dalam Oudheikunding Verslag (OV) tahun 1915. Menurut para ahli yang telah melakukan penelitian bangunan ini.

Gapura Bajang Ratu adalah salah satu situs peninggalan kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Gapura Bajang Ratu bersama dengan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328.

Dalam kitab pararaton disebutkan Jayanegara wafat pada tahun 1328 “Sira ta dhinarmeng kapopongan, bhisaka ring rnggapura pratista ring Antawulan”.

Menurut Krom, rnggapura dalam pararaton sama dengan ri Ranggapura dalam Nagarakertagama, sedang Antawulan dalam Pararaton sama dengan Antarsasi dalam Nagarakertagama.

Baca Juga : Sejarah Strategi Politik Adu Domba VOC

Sehingga Kunci bahwa dharma raja Jayanegara berada di kapopongan alias rnggapura atau ri Ranggapura. Pratistanya (bangunan suci) berada di Antawulan atau Trowulan.

Dengan demikian fungsi Gapura ini disebut sebagai masuk ke sebuah bangunan suci.

Gapura ini berbentuk Paduraksa. Yaitu bangunan yang memiliki atap.

Gapura ini berbentuk Paduraksa. Yaitu bangunan yang memiliki atap tunggal yang dibagi menjadi 3 bagian, yakni kaki, tubuh dan atap. Banyak relief di Gapura Bajang Ratu, ada Sritanjung,

Ramayana, dan Bunga Matahari. Itu semua fungsinya untuk menolak balak dari mara bahaya.

Gapura Bajang Ratu ini dibangun kisaran pada abad 13-14, Pada masa Kerajaan Majapahit. Dan Sudah direnovasi sebanyak dua kali. Yang pertama pada tahun 1915, oleh Belanda.

Termasuk merenovasi penyangga atapnya, yang dulunya terbuat dari kayu namun karena keropos diganti dengan besi. Renovasi yang kedua yaitu pada tahun 1985 sampai 1991.

 

Baca Lainnya

Max Havelaar, Saijah dan Adinda, Oleh: Tammat R. Talaohu Waketum Koordinasi Perekonomian Kadin Maluku

21 Januari 2026 - 15:01 WIB

Max Havelaar, Saijah dan Adinda, Oleh Tammat R. Talaohu Waketum Koordinasi Perekonomian Kadin Maluku

Pemuda Kaum Betawi Apresiasi Kebijakan Gubernur Jakarta Larang Kembang Api

28 Desember 2025 - 14:13 WIB

IMG 20251225 WA0021

Gebyar Seni Budaya Betawi Pukau Penonton dengan Komedi Legendaris Buaya Buntung

23 Desember 2025 - 12:36 WIB

IMG 20251223 WA0001

Pemerintah Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025

18 Desember 2025 - 00:08 WIB

Pemerintah Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025

Gubernur DKI Terima Rekomendasi Kongres Istimewa Kaum Betawi, Tegaskan Komitmen Penguatan Budaya

16 Desember 2025 - 00:14 WIB

Gubernur DKI Terima Rekomendasi Kongres Istimewa Kaum Betawi, Tegaskan Komitmen Penguatan Budaya
Trending di Seni & Budaya
error: Matras News