MATRASNEWS, JAKARTA – Loyalis Anies Baswedan, Geisz Chalifah, menilai dinamika politik nasional hingga saat ini masih sangat cair. Hal ini terutama terkait dengan peluang gerakan rakyat dalam kontestasi politik ke depan, serta posisi Anies Baswedan di tengah peta kekuatan yang terus berubah.
Gerakan yang tengah digagas tersebut, menurut Geisz, telah menuntaskan seluruh persyaratan administratif. Proses selanjutnya adalah menunggu jadwal verifikasi faktual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) . Ia menyebut gerakan ini telah membangun jaringan di puluhan provinsi hingga kota.
“Pemenuhan persyaratan administrasi di berbagai daerah dinilai sangat kuat,” ujarnya.
Namun, masa depan gerakan ini dinilai masih bergantung pada sejumlah variabel politik. Salah satu pertanyaan kunci adalah apakah pemerintahan Prabowo Subianto akan memberikan ruang bagi partisipasi politik terbuka.
Selain itu, perdebatan mengenai ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold nol persen masih menjadi sorotan. Menurutnya, mekanisme ini berpotensi melalui proses panjang di DPR pasca putusan Mahkamah Konstitusi.
Geisz juga mempertanyakan strategi yang akan ditempuh: apakah gerakan rakyat akan berkoalisi dengan partai politik yang memiliki kursi di DPR, atau memilih bergerak secara mandiri. Ia memperkirakan kebutuhan biaya awal untuk membangun kekuatan politik tingkat nasional dapat mencapai setidaknya Rp1 triliun.
Elektabilitas Anies dan Tantangan ke Depan
Di tengah dinamika tersebut, posisi Anies Baswedan tetap menjadi perhatian. Meski kini tidak memegang jabatan publik dan jarang tampil langsung, sejumlah survei menempatkan namanya di posisi atas.
Geisz merujuk pada survei terbaru Median yang menunjukkan Prabowo Subianto di posisi teratas, sementara nama seperti Dedi Mulyadi (KDM) dan Anies bersaing ketat di posisi berikutnya. Dalam simulasi terbuka, Prabowo meraih 32,2 persen, KDM 19,8 persen, dan Anies 19,5 persen.
Meskipun tanpa posisi kelembagaan seperti AHY atau Gibran, Geisz menilai tingkat pengenalan publik terhadap Anies masih kuat.
“Namanya tetap diperhitungkan dalam dinamika politik nasional,” tegasnya.
Ia mengakui prospek politik Anies sulit dipastikan. Perubahan koalisi, kebijakan pemerintah, dan respons masyarakat dinilai dapat memengaruhi peta politik.
Terkait sikapnya yang tidak bergabung dengan organisasi politik tertentu, Geisz menjelaskan hal itu untuk menjaga kebebasan rekan-rekannya dalam menentukan sikap, karena pencantuman nama mereka berpotensi langsung dikaitkan dengan Anies oleh publik.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.