MATRASNEWS, JAKARTA – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa kepemimpinan ideal dijalankan dengan berlandaskan nilai, bukan sekadar popularitas. Hal ini disampaikannya dalam diskusi kepemimpinan nasional di Jakarta, Kamis (11/6).
Landasan Ideologi dan Keberpihakan
Menurut Bima, seorang pemimpin harus memiliki ideologi yang kuat sebagai kompas etis. Tanpa nilai, kata dia, kebijakan mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat. Prinsip itu diterapkannya saat memimpin Kota Bogor dua periode. Keputusan kontroversial kereta api diberhentikan demi publik.
Mencicil Harapan Warga
Bima menyebut pemimpin adalah “dealer of hope” atau pencicil harapan. Harapan warga perlu diwujudkan secara bertahap, misalnya melalui ruang publik dan transportasi umum. Program jangka panjang tetap dijalankan meski hasilnya tak langsung terasa. Inilah yang disebutnya sebagai mencicil harapan untuk masa depan kota.
Merawat Dukungan Rakyat
Dukungan masyarakat disebut Bima sebagai hal yang rapuh namun vital. Kepercayaan publik harus terus dirawat dengan kerja nyata dan komunikasi yang jujur. Pemimpin tidak boleh jumawa setelah meraih suara. Merawat dukungan adalah kunci keberlanjutan setiap kepemimpinan yang berpihak.











