MATRASNEWS, JAKARTA – Mekari Conference 2026 yang bertajuk “AI at Work” diikuti lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, dan profesional lintas industri. Forum ini mempertemukan para pemikir, pembuat kebijakan, dan pelaku transformasi digital untuk membahas bagaimana kecerdasan buatan (AI) akan membentuk masa depan bisnis Indonesia.
Di tengah tingginya antusiasme terhadap AI, konferensi ini menyoroti tantangan yang semakin nyata: bagaimana organisasi dapat memanfaatkan AI secara aman, produktif, dan bertanggung jawab tanpa mengorbankan keamanan data maupun kualitas pengambilan keputusan manusia. Momentum tersebut hadir di saat Indonesia menunjukkan percepatan adopsi AI yang signifikan.
Berdasarkan laporan ASEAN Intelligence 2026 menunjukkan bahwa 62% perusahaan Indonesia telah menjadi first mover dalam adopsi AI di kawasan Asia Tenggara. Namun data lain menunjukkan baru sekitar 26% perusahaan di Indonesia yang berhasil mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam operasional bisnis.
Kesenjangan ini memunculkan fenomena Shadow AI, situasi ketika karyawan menggunakan aplikasi AI pribadi atau tidak terotorisasi untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, sehingga meningkatkan risiko kebocoran data dan pelanggaran privasi perusahaan.
Memperkuat posisinya sebagai salah satu konferensi AI bisnis terbesar di Indonesia, Mekari Conference 2026 menghadirkan deretan pembicara dari organisasi yang berada di garis depan perkembangan teknologi global maupun transformasi digital nasional.
Di antara tokoh yang hadir adalah Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia periode 2014–2019; Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia OpenAI; Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia; Aldo Rambie, Head of Industry Meta Indonesia.
Lalu ada Prof. Rhenald Kasali, Founder Rumah Perubahan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; Dr. Wani Sabu, Senior Advisor Fraud Banking Investigation BCA; Risman Adnan, Chief Technology Officer Paragon Corp; serta sejumlah pemimpin bisnis, regulator, dan praktisi teknologi lainnya.
Kehadiran para pembicara tersebut menghadirkan perspektif yang komprehensif mengenai masa depan AI, mulai dari arah kebijakan publik, kesiapan infrastruktur digital, keamanan data, tata kelola teknologi, transformasi budaya kerja, hingga implementasi AI yang menghasilkan dampak bisnis nyata.
Lebih dari sekadar wacana teknis, forum ini menekankan peran vital Human-in-the-Loop demi menjaga kualitas pengambilan keputusan manusia di tengah percepatan otomatisasi.
Dari sisi eksekusi operasional, para pakar memaparkan implementasi Conversational AI dan Agentic AI untuk meredefinisi pengalaman pelanggan, pemanfaatan otomatisasi tanpa kode (No-Code Automation) untuk mempercepat alur kerja lintas fungsi, hingga strategi pembinaan talenta dan kepemimpinan modern untuk merespons transformasi budaya kerja di era kecerdasan buatan.
“Pekerja Indonesia memiliki antusiasme yang luar biasa terhadap AI. Namun ketika perusahaan tidak menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan akan mencari solusi sendiri. Di sinilah risiko Shadow AI muncul,” kata Suwandi Soh selaku Chief Executive Officer (CEO) Mekari di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
“Tantangan kita bukan menghentikan penggunaan AI, tetapi menyediakan AI yang aman, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan bisnis. Melalui Mekari Airene, kami membawa AI langsung ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701,” lanjutnya.
Suwandi juga menekankan bahwa AI seharusnya tidak menggantikan manusia, melainkan memperkuat kemampuan profesional dalam berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengambil keputusan yang lebih baik. Pendekatan ini diwujudkan melalui filosofi Human-in-the-Loop, di mana AI menangani pekerjaan repetitif dan analisis data, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Inovasi ini sejalan dengan temuan data internal Mekari AI Intelligence Report yang mencatatkan lonjakan adopsi AI masif di berbagai fungsi operasional perusahaan:
● Fungsi Sales & CRM: Adopsi fitur AI pada Mekari Qontak melonjak hingga 7,8 kali lipat, didorong oleh kebutuhan perusahaan untuk merespons interaksi pelanggan secara instan.
● Fungsi HR & Rekrutmen: Penggunaan AI pada Mekari Talenta tumbuh hingga 138%, khususnya pada fitur otomatisasi analisis kualifikasi dan candidate scoring.
● Fungsi Keuangan & Operasional: Integrasi AI Airene Anomaly Checker pada Mekari Jurnal & Expense (XPM) terus meningkat untuk memindai transaksi keuangan dan mendeteksi potensi pembengkakan anggaran secara real-time
Selain menghadirkan diskusi strategis, Mekari Conference 2026 juga menampilkan berbagai contoh implementasi AI yang telah memberikan dampak nyata bagi operasional bisnis.
Salah satunya datang dari Dermaster, jaringan klinik estetika yang memanfaatkan teknologi Conversational AI melalui Mekari Qontak untuk mengelola ribuan interaksi pelanggan setiap harinya.
Menurut Director of Sales & Operational Dermaster, Dicky Ie, integrasi AI pada saluran komunikasi pelanggan memungkinkan perusahaan memangkas waktu respons dari hitungan jam menjadi hitungan menit, sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional.
“Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal. Dampaknya tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan bisnis,” terang Dicky Ie.
Studi kasus tersebut memperlihatkan bagaimana AI dapat berfungsi sebagai katalis pertumbuhan bisnis ketika diterapkan secara strategis, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.