MATRASNEWS, BATU – Sebanyak 3.200 tiket kunjungan ke Mega Science Center dan Budaya diserahkan kepada pelajar Kota Batu serta anak-anak Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Kota Batu, Rabu (16/9/2026). Penyerahan berlangsung simbolis bersamaan dengan momentum trial opening destinasi edukasi baru di kawasan Jatim Park 1 tersebut.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai kehadiran museum tersebut menjadi angin segar bagi pengembangan pembelajaran STEM.
Ia menyebut konsep museum dapat menjadi referensi bagi sekolah dalam mengenalkan STEM kepada peserta didik.
Khofifah mengapresiasi Jawa Timur Park Group yang menginisiasi pembangunan museum tersebut.
Gubernur Jatim juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Batu Nurochman yang menginformasikan sekaligus mengundangnya untuk menghadiri Trial Opening.
Kehadiran museum tersebut mempertemukan STEM, teknologi digital, AI, dan budaya dalam satu kawasan wisata edukasi, tuturnya.
Kesempatan Belajar yang Lebih Luas
Direktur Jawa Timur Park Group, Rio Imam Sendjojo, menyatakan pemberian tiket ini bertujuan memperluas akses belajar berbasis pengalaman bagi anak dan pelajar.
Rio menambahkan, lingkungan belajar dapat dihadirkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui destinasi wisata edukasi
1.640 Alat Peraga dan Artefak Budaya
Museum Mega Science Center dan Budaya menyediakan 1.640 alat peraga sains dan artefak budaya. Rinciannya, 617 alat peraga sains dan 1.023 artefak budaya, dan Artificial Intelligence (AI), hingga sejarah dan budaya Indonesia.
Pengunjung memperoleh informasi sekaligus dapat mencoba, mengamati, berinteraksi, dan menemukan berbagai pengetahuan melalui alat peraga maupun koleksi yang tersedia.
Analisis: Investasi Literasi Sains Sejak Dini
Langkah Jatim Park Group membagikan tiket gratis kepada pelajar dan anak LKSA menunjukkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan destinasi wisata edukasi. Alih-alih semata mengejar kunjungan komersial, perusahaan mengarahkan sebagian aksesnya untuk memperluas jangkauan literasi sains di kalangan anak.
Bagi Kota Batu, inisiatif ini berpotensi memperkuat posisi daerah sebagai pusat wisata edukasi, sekaligus menjawab tantangan pemerataan akses belajar di luar kelas. Anak-anak LKSA, yang sering terlewat dari program wisata edukasi komersial, menjadi salah satu kelompok sasaran utama.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.