Matras News – Mendengar kata maggot bagi sebagian masyarakat awam mungkin masih terdengar asing di telinga. Namun, ketika mendengar kata belatung mungkin sudah familiar karena bentuknya yang menggelikan dan membuat bulu kuduk merinding.
Seperti dketahui, maggot adalah larva seperti belatung, sebelum menjadi lalat tetapi memiliki ukuran yang lebih besar, keunggulannya tidak membawa penyakit.
Permadi Widiatama mahasiswa dari Universitas Trisakti menjelaskan, “salah satu maggot Black Soldier fly (BSF) atau lalat pengurai sampah yang ramah lingkungan berbeda dari lalat hijau yang dapat menyebabkan penyakit, “jelasnya kepada matrasnews.com pada Selasa (21/6), dalam acara pembukaan HUT Jakarta ke 495 dengan tema Jakarta Punya Cerite yang diselenggarakan oleh Hotel Aston Kartika Grogol Jakarta.
Seperti yang diketahui, magot hanya mengalami satu siklus kehidupan. Eko enzim dan pupuk cair yang terbuat dari buah-buahan dan sayur mayur, lebih alami dan bagus untuk pengganti cuci piring, Pupuk cair dan Pupuk kompos yang sangat baik untuk bercocok tanam, seperti buah dan sayur mayur.
“Magot BSF biasa digunakan untuk pakan ternak seperti ikan hias bahkan bekas magot pun bisa di manfaatkan untuk menjadi pupuk tanaman hias,”ucap permadi.
Ia Menjelaskan, selain budidaya magot juga mengembangkan budidaya lele, pengolahan sampah organik dan un organik. sampah non organik dapat dimanfaatkan menjadi mainan seperti boneka ondel-ondel atau pesawat pesawatan dan dipamerkan dalam acara UMKM Jakarta Punye Cerite.
”Untuk pengembangan dan pembelajaran budidaya magot dapat dipelajari di bambu larangan atau RPTRA Serasi di daerah Jakarta Barat selama enam bulan disana kita juga dapat belajar cara penanganan sampah berbahaya, katanya.
(haad)











