Komponis yang digambarkan Sydney Morning Herald sebagai “salah satu pianis terkemuka dunia yang mempelopori musik piano baru” ini tinggal di Spanyol sejak 1998 dan mendalami budaya Hispanik. Kemampuan diplomatik Ananda melalui seni telah teruji sejak 2000 saat ia tampil bersama Portuguese Symphony Orchestra, menjadikannya seniman Indonesia pertama yang tampil di negara tersebut pasca pemulihan hubungan diplomatik.
Dua negara telah menganugerahinya penghargaan sipil tertinggi: gelar kesatriaan Cavaliere Ordine della Stella d’Italia dari Presiden Sergio Mattarella dan Real Orden de Isabel la Católica dari Raja Felipe VI.
Ratnaganadi Paramita didapuk sebagai solois untuk menyanyikan ketiga karya tersebut. “Saya meminta Mariana Airaudo dan Ratnaganadi Paramita membawakan salah satu karya saya berbahasa Indonesia sebagai pertukaran lintas budaya,” ujar Ananda.
Dosen vokal ISI Ika Sri Wahyuningsih, M.Sn., mengirimkan dua mahasiswinya Monica Cintia Christy dan Mathilda Ave Mariyorie untuk berkolaborasi dalam konser di Yogyakarta.
Ananda Sukarlan tidak hadir dalam konser tersebut. Penyerahan bunga dari Duta Besar Uruguay diterima oleh pianis Rachel Nadia, sahabat dan rekan yang telah berkolaborasi dengan Ananda dalam berbagai kegiatan di Yogyakarta. Ananda direncanakan mengunjungi studio Rachel Nadia pada September 2026, menjelang Kompetisi Piano Nusantara Plus di Yogyakarta (10/10) dan Salatiga (25/10).
“Berbagai tembang puitik Ananda kini telah dimainkan puluhan pianis dan dinyanyikan vokalis asing. Dengan terjemahan puisi di buku program, ini cara lambat namun pasti memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia melalui musik klasik,” demikian catatan dalam buku program konser.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.