MATRASNEWS, JAKARTA — Populasi satwa liar dunia terus menghadapi tekanan serius. Living Planet Report 2026 yang dirilis WWF pada 8 Oktober 2026 mencatat penurunan rata-rata ukuran populasi satwa liar yang dipantau sebesar 73 persen selama 1970–2022.
Angka tersebut menjadi peringatan bagi Indonesia, salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tinggi. Perlindungan habitat kini menjadi kunci untuk mencegah semakin banyak satwa kehilangan ruang hidupnya.
Penurunan Terbesar Terjadi di Air Tawar
Laporan WWF mencatat ekosistem air tawar mengalami penurunan rata-rata populasi satwa sebesar 85 persen. Ekosistem darat menyusul dengan penurunan 69 persen, sedangkan ekosistem laut mencapai 59 persen.
Angka 73 persen tidak berarti sebanyak itu satwa liar telah punah. Data tersebut menggambarkan penurunan rata-rata ukuran populasi spesies yang dipantau selama periode penelitian.
Meski demikian, tren tersebut menunjukkan tekanan besar terhadap keseimbangan ekosistem. Perusakan habitat, eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, pencemaran, serta spesies invasif menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup satwa.
Harimau, Gajah, dan Penyu Menghadapi Ancaman
Di Indonesia, perlindungan habitat menjadi tantangan penting bagi kelangsungan hidup satwa liar. Harimau Sumatra membutuhkan kawasan hutan yang aman, sedangkan gajah Sumatra memerlukan jalur jelajah yang terhubung untuk mencari makan dan berkembang biak.
Penyempitan habitat dapat meningkatkan konflik antara satwa dan manusia. Ketika ruang hidup menyusut, gajah berpotensi memasuki perkebunan atau permukiman untuk mencari makanan.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.