“Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih mudah dibandingkan jika kondisi ekonomi sedang tidak baik,” ujar Purbaya kepada awak media.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah bersama otoritas moneter terus memperkuat koordinasi guna memastikan stabilitas sistem keuangan. Beberapa langkah strategis telah dilakukan, termasuk menjaga kecukupan likuiditas di sistem keuangan serta melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan nilai tukar.
Menurut Purbaya, sinergi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi elemen krusial dalam meredam dampak gejolak pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi baik, likuiditas di sistem cukup, dan BI memonitor kondisi nilai tukar, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan BI sangat penting. Jika koordinasi seperti ini terjaga, gejolak pasar global tidak akan terlalu sulit dikendalikan,” tegasnya.
Tanggapi Kenaikan Harga Minyak
Dalam kesempatan yang sama, Menkeu Purbaya juga merespons kekhawatiran publik mengenai dampak kenaikan harga minyak global terhadap anggaran subsidi energi pemerintah, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
Ia memastikan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini masih cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga energi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Purbaya menjelaskan bahwa perhitungan subsidi energi dirancang untuk jangka waktu satu tahun penuh dengan asumsi yang matang.
“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan ini baru terjadi beberapa hari. Subsidi energi dihitung untuk satu tahun penuh, dengan asumsi rata-rata harga sekitar 70 dolar. Jadi kenaikan beberapa hari ini belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Kita masih bisa menyerapnya,” pungkas Purbaya Yudhi Sadewa.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











Komentar ditutup.