Menu

Mode Gelap
Masyarakat Tak Panic Buying Jelang Idulfitri, Stok BBM Aman Pekan Depan Kendaraan Truk Terkena Pembatasan di Ruas Tol dan Jalan Arteri Pemprov DKI Gelontorkan Rp1,62 Triliun untuk KJP Plus Tahap I 2026 Update Pencarian Longsor TPA Bantargebang: Korban Meninggal Jadi Enam Orang, Satu Masih Hilang Swiss-Belresidences Kalibata Rilis Promo Lebaran Rayakan Idul Fitri Bersama BWH Hotels Indonesia

Bisnis

Saham BANK BCA Kian Mendekati Harga Stock Split

badge-check


					Saham BANK BCA Kian Mendekati Harga Stock Split Perbesar

Matras News, Jakarta – Di saat kinerja fundamental mulai membaik, tren koreksi belum berhenti membayangi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bahkan, harga BBCA kini sudah mendekati harga kala bank tersebut pasca melakukan stock split yaitu Rp 7.320 per saham.

Seperti diketahui, BBCA menutup perdagangan, Jumat (21/3) dengan harga Rp 7.900 per saham atau turun hingga 5,67% dari harga penutupan hari sebelumnya. Adapun, BBCA juga telah terkoreksi 18,35% secara year to date.

Sebagai informasi, BBCA kini telah menyentuh harga paling rendah sejak Agustus 2022. Di mana, saham bank swasta terbesar tanah air ini terakhir menyentuh harga Rp 7.900 per saham pada 19 Agustus 2022.

Tren koreksi saham BBCA pun telah terjadi sejak 23 September 2024, di mana kala itu BBCA sudah mencapai harga Rp 10.950 per saham. Sejak saat itu pula, investor asing pun mulai rajin menjual kepemilikan sahamnya di BBCA melalui broker-broker asing.

Dikutip berdasarkan riset KONTAN, Maybank Sekuritas Indonesia tercatat paling banyak melakukan aksi jual untuk periode 23 September 2024 hingga 21 Maret 2025. Broker asal Malaysia tersebut telah menjual 3,86 juta lot saham BBCA atau senilai Rp 3,5 triliun.

Selanjutnya, ada UBS Sekuritas Indonesia yang juga tercatat menjual aksi jual untuk periode yang sama sebanyak 3,83 juta lot saham BBCA. Nilainya pun hampir sama yaitu sekitar Rp 3,5 triliun.

Di posisi ketiga, ada J.P. Morgan Sekuritas Indonesia yang juga melepas BBCA sebanyak 3,54 juta lot saham di periode yang sama. Nilai dari melepas saham BBCA tersebut mencapai Rp 3,2 triliun.

Dalam riset terbarunya (18/3), analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA, karena biaya pendanaan yang rendah, likuiditas yang kuat, dan kualitas aset yang solid. Menurutnya, beberapa faktor tersebut seharusnya mendukung pertumbuhan pendapatan yang stabil.

“Meskipun manajemen tetap berhati-hati dalam ekspansi, kami yakin BBCA akan terus mengalami pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” tulis mereka dalam risetnya.

Adapun, rekomendasi tersebut mengacu pada laba bersih BBCA secara bank only dalam dua bulan pertama tahun 2025 yang tumbuh 8,4% YoY menjadi Rp 9 triliun. Profitabilitas operasional dicapai dengan margin bunga bersih (NIM) yang lebih kuat sebesar 5,7%, atau naik 22 bps secara tahunan.

Ke depan, mereka memperkirakan BBCA akan tetap tangguh meskipun ada ketidakpastian ekonomi makro dengan memanfaatkan posisi likuiditasnya yang kuat dan biaya pendanaan yang rendah. Menurut mereka fokus strategis bank pada aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi seharusnya semakin meningkatkan pengembalian.

“Target harga kami sebesar Rp 11.675 didasarkan pada target rasio P/BV FY25E sebesar 4,8x,” tulis mereka.

Baca Lainnya

Simak 4 Tips Menginvestasikan THR dengan Emas yang Lebih Mudah, Aman, dan Terpercaya

9 Maret 2026 - 00:24 WIB

Simak 4 Tips Menginvestasikan THR dengan Emas yang Lebih Mudah, Aman, dan Terpercaya

Berkah Ramadan, Omzet Bolen Khas Bekasi Ditaksir Tembus Rp30 Juta

7 Maret 2026 - 19:20 WIB

Berkah Ramadan, Omzet Bolen Khas Bekasi Ditaksir Tembus Rp30 Juta

Industri Asuransi Disiapkan Garap Potensi Besar di Sektor Hulu Migas

7 Maret 2026 - 02:25 WIB

Industri Asuransi Disiapkan Garap Potensi Besar di Sektor Hulu Migas

Hyper Mega Shipping Umumkan Fokus Strategis dan Ekspansi Internasional untuk Tahun 2026

6 Maret 2026 - 02:42 WIB

Hyper Mega Shipping Umumkan Fokus Strategis dan Ekspansi Internasional untuk Tahun 2026

Perumda Tirta Patriot Luncurkan Forum RW Berbasis Pelanggan

5 Maret 2026 - 21:16 WIB

Trending di Bisnis