Menu

Mode Gelap
BTN JAKIM 2026 Ditargetkan Putar Rp200 Miliar BYD dan VinFast Rekrut 616 Tenaga Kerja Asal Subang Zulkifli Hasan Sosialisasi Program Nasional di SMAN 5 Kota Bekasi Pemerintah Rekrut 30.000 Manajer Kopdes Merah Putih Berstatus BUMN Kontrak Jangan Boros untuk Pesta Nikah, Beli Rumah Lebih Prioritas Justin Bieber Comeback di Coachella 2026, Bawa Laptop dan Nostalgia

Bisnis

Saham BANK BCA Kian Mendekati Harga Stock Split

badge-check


					Saham BANK BCA Kian Mendekati Harga Stock Split Perbesar

Matras News, Jakarta – Di saat kinerja fundamental mulai membaik, tren koreksi belum berhenti membayangi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bahkan, harga BBCA kini sudah mendekati harga kala bank tersebut pasca melakukan stock split yaitu Rp 7.320 per saham.

Seperti diketahui, BBCA menutup perdagangan, Jumat (21/3) dengan harga Rp 7.900 per saham atau turun hingga 5,67% dari harga penutupan hari sebelumnya. Adapun, BBCA juga telah terkoreksi 18,35% secara year to date.

Sebagai informasi, BBCA kini telah menyentuh harga paling rendah sejak Agustus 2022. Di mana, saham bank swasta terbesar tanah air ini terakhir menyentuh harga Rp 7.900 per saham pada 19 Agustus 2022.

Tren koreksi saham BBCA pun telah terjadi sejak 23 September 2024, di mana kala itu BBCA sudah mencapai harga Rp 10.950 per saham. Sejak saat itu pula, investor asing pun mulai rajin menjual kepemilikan sahamnya di BBCA melalui broker-broker asing.

Dikutip berdasarkan riset KONTAN, Maybank Sekuritas Indonesia tercatat paling banyak melakukan aksi jual untuk periode 23 September 2024 hingga 21 Maret 2025. Broker asal Malaysia tersebut telah menjual 3,86 juta lot saham BBCA atau senilai Rp 3,5 triliun.

Selanjutnya, ada UBS Sekuritas Indonesia yang juga tercatat menjual aksi jual untuk periode yang sama sebanyak 3,83 juta lot saham BBCA. Nilainya pun hampir sama yaitu sekitar Rp 3,5 triliun.

Di posisi ketiga, ada J.P. Morgan Sekuritas Indonesia yang juga melepas BBCA sebanyak 3,54 juta lot saham di periode yang sama. Nilai dari melepas saham BBCA tersebut mencapai Rp 3,2 triliun.

Dalam riset terbarunya (18/3), analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA, karena biaya pendanaan yang rendah, likuiditas yang kuat, dan kualitas aset yang solid. Menurutnya, beberapa faktor tersebut seharusnya mendukung pertumbuhan pendapatan yang stabil.

“Meskipun manajemen tetap berhati-hati dalam ekspansi, kami yakin BBCA akan terus mengalami pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” tulis mereka dalam risetnya.

Adapun, rekomendasi tersebut mengacu pada laba bersih BBCA secara bank only dalam dua bulan pertama tahun 2025 yang tumbuh 8,4% YoY menjadi Rp 9 triliun. Profitabilitas operasional dicapai dengan margin bunga bersih (NIM) yang lebih kuat sebesar 5,7%, atau naik 22 bps secara tahunan.

Ke depan, mereka memperkirakan BBCA akan tetap tangguh meskipun ada ketidakpastian ekonomi makro dengan memanfaatkan posisi likuiditasnya yang kuat dan biaya pendanaan yang rendah. Menurut mereka fokus strategis bank pada aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi seharusnya semakin meningkatkan pengembalian.

“Target harga kami sebesar Rp 11.675 didasarkan pada target rasio P/BV FY25E sebesar 4,8x,” tulis mereka.

Baca Lainnya

BTN JAKIM 2026 Ditargetkan Putar Rp200 Miliar

16 April 2026 - 00:08 WIB

BTN JAKIM 2026 Ditargetkan Putar Rp200 Miliar

PT Mitra Patriot Borong Tiga Penghargaan TOP BUMD Awards 2026

13 April 2026 - 19:39 WIB

PT Mitra Patriot Borong Tiga Penghargaan TOP BUMD Awards 2026

Pemerintah Genjot Debottlenecking, Buka Jalan Investasi ke Target 8%

7 April 2026 - 00:08 WIB

Pemerintah Genjot Debottlenecking, Buka Jalan Investasi ke Target 8%

Operasional Taman Safari Group Fasilitas Prima, Layanan Optimal

27 Maret 2026 - 00:06 WIB

Operasional Taman Safari Bali Fasilitas Prima, Layanan Optimal

Indonesia Perkuat Strategi Ekspor Tuna Lewat Seminar di SENA 2026

27 Maret 2026 - 00:03 WIB

Indonesia Perkuat Strategi Ekspor Tuna Lewat Seminar di SENA 2026
Trending di Bisnis