MATRASNEWS, JAKARTA – Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama budaya, pendidikan, pengetahuan, dan kemanusiaan sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian. Pesan itu mengemuka dalam seminar budaya bertajuk “Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, menyampaikan gagasan tersebut dalam rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta.
Menurut AlDhaheri, hubungan kedua negara tidak cukup hanya bertumpu pada kerja sama pemerintah. Pertukaran pengetahuan dan budaya juga perlu diperkuat karena dapat membuka ruang pertemuan antarmasyarakat.
50 Tahun Hubungan Diplomatik
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi UEA dan Indonesia. Kedua negara memperingati 50 tahun hubungan diplomatik yang dimulai pada 1976.
AlDhaheri menyebut lima dekade hubungan tersebut sebagai modal untuk memasuki tahap baru kerja sama. Fokusnya mencakup pendidikan, budaya, pengetahuan, pemberdayaan pemuda, penelitian, penerjemahan, serta dialog keagamaan.
Ia juga menyoroti sejumlah nilai yang dinilai dimiliki kedua negara, seperti penghormatan terhadap manusia, keluarga, pendidikan, agama, dan warisan budaya.
Masjid Sheikh Zayed Jadi Simbol
Masjid Agung Sheikh Zayed di Solo menjadi salah satu contoh hubungan budaya dan spiritual UEA-Indonesia. Menurut AlDhaheri, keberadaan masjid tersebut mencerminkan pesan toleransi, hidup berdampingan, kasih sayang, dan perdamaian.
Dalam forum itu, ia menekankan bahwa perdamaian tidak hanya berarti berhentinya perang. Perdamaian juga membutuhkan dialog, pembangunan kepercayaan, de-eskalasi, dan upaya mengatasi akar konflik.
AlDhaheri turut menyampaikan peran UEA dalam mendorong mediasi pada sejumlah krisis internasional. Ia mencontohkan keterlibatan UEA dalam proses pertukaran tawanan dan tahanan antara Rusia dan Ukraina.
Pendidikan sebagai Investasi Perdamaian
Dalam seminar tersebut, AlDhaheri memperkenalkan buku Mohamed bin Zayed dan Pendidikan yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Buku itu mengangkat pandangan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan mengenai peran pendidikan dalam pembangunan manusia dan masa depan.
UEA juga menyoroti penetapan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Al Burda Award 2026. Momentum tersebut dinilai membuka ruang lebih luas bagi kerja sama kebudayaan dan peradaban.
“Investasi pada manusia pada hakikatnya adalah investasi pada perdamaian,” kata AlDhaheri.
Diplomasi Melalui Buku dan Gagasan
Abu Dhabi Peace Forum dan The UAE Council for Fatwa turut hadir dalam IIBF 2026 melalui paviliun yang menampilkan program pengetahuan, budaya, dan keagamaan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengunjungi kedua paviliun tersebut dalam rangkaian pembukaan IIBF 2026 pada sehari sebelumnya.
Seminar itu memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia-UEA memasuki ruang kerja sama yang lebih luas. Buku, pendidikan, budaya, dan dialog menjadi jalur diplomasi yang mempertemukan masyarakat kedua negara.
AlDhaheri mengajak Indonesia dan UEA menjadikan peringatan 50 tahun hubungan diplomatik sebagai awal bagi lima dekade berikutnya. Ia menekankan pentingnya membangun kedekatan melalui pengetahuan, memperkuat hubungan melalui budaya, dan mendorong kerja sama untuk perdamaian.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.