MATRASNEWS, DEPOK – Selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Juli 2026, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat berkolaborasi dengan Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggelar latihan meja (tabletop exercise/TTX) di Wisma Makara Universitas Indonesia. Kegiatan ini menguji implementasi Prosedur Tetap (Protap) Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (PHEOC) dalam skenario penanganan wabah demam berdarah.
Kegiatan ini diikuti 60 peserta dari tingkat nasional dan provinsi, termasuk perwakilan Jawa Barat dan Sulawesi Barat. Mereka berasal dari petugas kesehatan puskesmas, rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), hingga ASEAN BioDiaspora Virtual Center (ABVC). Sepanjang simulasi, para peserta menguji efektivitas Protap PHEOC melalui skenario respons wabah endemik. Pembahasan mencakup seluruh siklus kedaruratan: deteksi dini, verifikasi kejadian, analisis situasi, penilaian risiko cepat, koordinasi teknis lintas sektor, hingga pengelolaan sumber daya.
Wakil Direktur CDC di Indonesia, Ken Chen, menekankan bahwa kesiapsiagaan merupakan benteng utama agar wabah tidak meluas menjadi pandemi global. Menurutnya, pemahaman atas fungsi koordinasi, komunikasi, pengambilan keputusan, dan deteksi dini menjadi kunci respons efektif. Senada, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Dr. Sumarjaya, mengingatkan bahwa Protap adalah instrumen operasional yang wajib diuji berkala. “Simulasi adalah tahap penting untuk mengetahui kekuatan sistem dan tantangan yang masih ada,” ujarnya.













Komentar ditutup.