Advertisement Section
AIDS dan Tramadol Merajalela, Apa Tindakan Pemkot Bekasi!

AIDS dan Tramadol Merajalela, Apa Tindakan Pemkot Bekasi!

Matras News, Bekasi – Tingginya penyakit AIDS/HIV dan beredar bebas tramadol (obat opioid) di sekitaran kita. Menanggapi AIDS/HIV Ketua DPC Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem) Jefry Hendratmo, angkat bicara.

Jefry menyebut, adanya data itu membuktikan bahwa Pemerintah Kota Bekasi telah melakukan upaya penanggulangan penyakit HIV secara baik sehingga dapat menemukan kasus tersebut.

Namun di balik jumlah kasus tersebut masih banyak di masyarakat yang belum di temukan, kasus HIV ibarat “Gunung Es” hanya puncaknya aja yang di ketahui namun di bawahnya meluas ke mana-mana,” kata Jefry

Lanjut Jefry, melihat dari jumlah kasus tersebut pihak Pemkot Bekasi apakah telah memberikan layanan baik untuk pengidapnya dari segi kesehatan ataupun ekonominya.

Stigma yang masih ada di masyarakat di perlukan dukungan dan gerakan bersama agar para pengidap data di tangani dengan baik serta yang belum mengetahui silahkan melakukan tes di layanan kesehatan agar visi Kota Bekasi yang sehat dan ikhsan dapat terlaksana dengan baik,” terang Jefry.

Jefry Hendratmo pun menambahkan tentang peredarannya obat tramadol merupakan obat opioid yang digunakan untuk meredakan nyeri sedang hingga berat dalam jangka pendek.

“Biasanya tidak dianjurkan untuk pengobatan nyeri kronis (jangka panjang). Tramadol hanya tersedia dengan resep dari dokter Anda.

Jika ada tramadol beredar di masyarakat atau di komunitas secara massif dan pengggunaan tanpa resep dokter itu bentuk penyalahgunaan bisa dianggap melakukan pelanggaran,” ucap Jefry kepada matras news pada, Jumat (13/6/2024).

Jefri menilai, untuk kasus HIV penyadaran dan peningkatan pengetahuan menjadi penting sehingga dapat melakukan pencegahan.

Program pencegahan AIDS dan Tramadol seharusnya di laksanakan oleh pihak pemerintah selaku pelaksananya adalah Dinas Kesehatan dan di lakukan oleh komponen masyarakat.

Saat ini untuk pelaksanaan program pencegahan dan dukungan di support oleh Global Fund.

Untuk di kota bekasi coordinator pelaksanaan program HIV adalah KPA (Komisi PenanggulanganAIDS) dasar hukumnya PERDA No 3 Tahun 2009.

Dengan adanya KPA penanggulangan HIV lebih kompreshensif terarah dan terencana. di karenakan KPA di ketuai oleh Wali Kota dan beranggotanan berabagai unsur mulai dari seluruh SKPD, LSM, Lembga profesi dan lainnya” tutur Jefry.

Mengenai tingginya AIDS/HIV di Kota Bekasi disampaikan Agus Harpa, Kabag Kesos Setda Kota Bekasi Bekasi dalam Rapat Koordinasi Komponen Penthahelix bertajuk Bergerak Bersama Komunitas Akhiri AIDS 2030. Acara digelar di Graha Hartika Wulan Sari Kota Bekasi, Jawa Barat pada, Jumat (22/12/2023) lalu.

Agus menjelaskan,” Inspeksi HIV masih menjadi masalah global dan nasional dalam waktu 20 tahun terakhir. Dalam penanggulangan HIV di dunia termasuk di Indonesia.

Pencegahan dan penanganan kasus di dukung transportasi kesehatan layanan primer pelibatan masyarakat. Kolaborasi multi pihak menjadi kebutuhan penting penanggulangan AIDS/HIV. Pada dasarnya pemerintah perlu dukungan dari lintas sektor,” ucap Agus.

Agus menambahkan,” Pada 2017 menjadi kurang optimal, hal ini berdampak penanggulangan AIDS/HIV di Indonesia menjadi peningkatan kerangga implementasi.

Kebijakan data pada tahun 2023 di Kota Bekasi sebanyak 626 orang, maka dari itu perlu kepedulian berbagai elemen masalah AIDS/HIV di Kota Bekasi,” terangnya.

Sementara, Ketua Yayasan Anugerah Insan Residivist, Nofia Erizka Lubis, SH menambahkan,” pada kegiatan hari ini adalah kegiatan yang sangat baik, bicara tentang HIV bukan lagi bicara tentang kesehatan melainkan ada permasalahan sosial dan juga ekonomi,” terangnya.

“Begitu juga Komponen Penthahelix sangat positif sekali karena melibatkan lima unsur komponen yaitu ada akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintahan dan juga media.

Media apalagi bisa diharapkan betul betul menjadi corong informasi untuk publik, agar mengetahui bagaimana isu HIV ini.

Nofia menambahkan,” Karena masalah utama menjalankan program HIV adalah masalah persoalan stikma dan diskriminasi. Jadi semua orang masih merasa suci, padahal saat ini HIV sudah tidak memandang lagi, mau dia nakal, maupun tidak nakal HIV bisa menyerang siapa saja,” tutup Nofia.