Menu

Mode Gelap
Ironi Laba Kertas PHE: Direksi Panen Tantiem Mewah, Korporasi Terjerat Utang Bunga Rp1,56 Triliun. DPR Ingatkan Risiko Psikologis terhadap Wajib Pajak DJP Klarifikasi Peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas: Hanya Koordinasi, Bukan Penagihan Pajak HANA Japanese Pop-Up Kitchen Hadir di Swiss-Belresort Dago Heritage Bank Jakarta Buka Cabang Masa Depan di Kebayoran Park Uji Simulasi Darurat DBD, CDC dan Kemenkes RI Evaluasi Kesiapan Operasional

Gaya Hidup Sehat

Kota Bekasi Darurat HIV, Bekasi Utara Kasus Tertinggi

badge-check

Kota Bekasi Darurat HIV, Bekasi Utara Kasus Tertinggi Perbesar


MATRASNEWS, BEKASI – Kota Bekasi menyimpan darurat kesehatan publik. Dengan 3.600 kasus kumulatif, kota ini bertengger di peringkat kedua kasus HIV tertinggi di Jawa Barat, tepat di bawah Kota Bandung. Namun, alokasi anggaran penanggulangan pada 2026 hanya Rp400 juta. Jumlah itu jauh tertinggal dibanding kota lain yang mencapai Rp1,2 miliar lebih.

Fakta ini mengemuka dalam reses Ketua DPRD Kota Bekasi di Perumahan Villa Indah Permai (VIP), Teluk Pucung, Bekasi Utara, Selasa (7/7/2026). Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi menilai ketimpangan antara urgensi epidemi dan besaran dana yang tersedia sangat timpang. “Harusnya pemerintah daerah punya kebijakan anggaran lebih agar penanggulangan HIV lebih masif,” tegasnya.

Bekasi Utara Jadi Zona Merah

Data Dinas Kesehatan memetakan epidemi ini tidak merata. Kecamatan Bekasi Utara mencatat beban kasus tertinggi di antara 12 kecamatan. Ketua Yayasan Anugerah Insan Residivist, Nofia Erizka Lubis, memaparkan hal tersebut. “Bekasi Utara dengan Bekasi Selatan, tertinggi di Kota Bekasi,” pungkasnya.

Baca Juga: Rapat Koordinasi Komponen Penthahelix, Bergerak bersama Komunitas Akhiri AIDS 2030

Di luar aspek medis, Nofia, menyoroti akar masalah sosial. Ia menilai penanganan selama ini parsial. Tes masif memang penting, namun kata Nofia, pembahasan jarang menyentuh faktor ekonomi, pola asuh, hingga kerentanan remaja yang menjadi pintu masuk lingkungan berisiko.

Data menunjukkan mayoritas pengidap berada pada usia produktif 15-36 tahun. Kelompok ini paling rentan terhadap penularan melalui hubungan seksual berisiko dan penyalahgunaan narkoba. Ironisnya, kelompok yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi justru menjadi episentrum epidemi.

Kolaborasi dan Kesenjangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Uji Simulasi Darurat DBD, CDC dan Kemenkes RI Evaluasi Kesiapan Operasional

22 Juli 2026 - 00:07 WIB

RS Karunia Kasih Jatiwaringin Jaring Kesehatan Lansia Lewat Komunitas Sepeda

14 Juli 2026 - 13:30 WIB

ASEAN4TB Symposium 2026 Perkuat Riset TB di Asia Tenggara

2 Juli 2026 - 16:56 WIB

BMHS Bangun Jembatan Penghubung RS Bunda Jakarta

13 Juni 2026 - 00:10 WIB

Kemenkes Dukung Penuh SKB Layanan Terpadu Perempuan dan Anak

6 Juni 2026 - 01:01 WIB

Trending di Gaya Hidup Sehat