“Kami melihat ini sebagai fase margin compression yang menekan rantai pasok industri,” ujar Meidy.
Di sisi lain, pengetatan kuota RKAB 2026 menjadi 250-270 juta ton atau turun 30-34% dari tahun sebelumnya menciptakan defisit bahan baku 80-100 juta ton. APNI memproyeksikan harga nikel LME akan terkonsolidasi di kisaran US$17.000–US$18.500 per ton hingga 2027.
“Era pasokan murah nikel Indonesia telah berakhir,” tegas Meidy.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.











