MATRASNEWS, JAKARTA – Populasi badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni) kini tersisa dua individu betina: Najin dan Fatu. Keduanya hidup di Suaka Ol Pejeta, Kenya, tanpa pejantan sejak kematian Sudan pada 2018.
Keduanya tidak lagi mampu berkembang biak secara alami. Najin menderita tumor dan usia lanjut, sementara Fatu memiliki kelainan rahim yang menghalangi kehamilan. Kondisi ini memaksa ilmuwan meninggalkan cara konvensional.
Konsorsium BioRescue gabungan Leibniz-IZW Jerman, Avantea Italia, dan Safari Park Dvůr Králové mengembangkan teknologi reproduksi berbantuan. Mereka memanen sel telur dari Fatu, membuahinya dengan sperma beku dari pejantan yang telah mati, lalu membekukan embrio yang dihasilkan.
Hingga awal 2026, proyek ini melaporkan puluhan embrio siap ditanamkan. Rencana berikutnya: mentransfer embrio ke induk pengganti badak putih selatan (Ceratotherium simum simum), subspesies yang masih relatif aman.
Badak putih utara pernah berkeliaran di Uganda, Chad, Sudan, dan Kongo. Perburuan liar dan konflik bersenjata memusnahkan populasi mereka dalam beberapa dekade. Kini, laboratorium menjadi satu-satunya “habitat” bagi kelangsungan subspesies ini.
Kehamilan badak berlangsung 16–18 bulan. Tingkat keberhasilan transfer embrio pada badak masih rendah, dan para peneliti belum pernah menguji prosedur ini pada subspesies utara. Jika gagal, badak putih utara akan resmi punah secara fungsional.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.