Kabar baiknya, sel-sel sehat dalam tubuh kita dapat menggunakan keton sebagai bahan bakar. Namun, sel kanker tidak memiliki kemampuan ini. Akibatnya, sel tumor akan “kelaparan”, mengalami stres, dan kehilangan akses ke aliran darah yang selama ini menjadi sumber nutrisi mereka.
Penelitian yang dipublikasikan di Nutrition & Metabolism juga menegaskan bahwa diet ketogenik dapat menekan jalur sinyal PI3K/Akt/mTOR yang berperan dalam proliferasi sel—serta mengurangi sinyal insulin-like growth factor-1 (IGF-1) yang memicu pertumbuhan kanker . Dengan kata lain, pendekatan ini tidak hanya membatasi energi untuk tumor, tetapi juga mengubah lanskap epigenetik dan imun untuk melawan kanker .
Catatan Penting: Bukan Pengganti Terapi Medis
Meskipun temuan ini membuka harapan baru, para ahli mengingatkan bahwa pendekatan ini masih dalam tahap penelitian dan bukan berarti pasien bisa meninggalkan pengobatan medis utama seperti kemoterapi, radiasi, atau operasi.
Panduan klinis terbaru dari program onkologi Jerman bahkan menegaskan bahwa tidak ada rekomendasi untuk “diet kanker” secara khusus. Diet ketat seperti puasa ekstrem atau keto tanpa pengawasan justru berisiko menyebabkan malnutrisi pada pasien kanker yang sudah lemah .
Poin penting dari riset ini adalah mengajak kita berpikir ulang: bagaimana jika nutrisi dan metabolisme ternyata sama pentingnya dengan obat-obatan dalam strategi pencegahan dan perawatan kanker?
Disclaimer: Berita ini disusun berdasarkan hasil riset dan tidak mengandung saran medis. Tidak ada jaminan bahwa pendekatan metabolik dapat mencegah atau menyembuhkan kanker. Selalu konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan sebelum mencoba metode pengobatan atau diet baru apa pun.
Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.






