MATRASNEWS, JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga melampaui batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Simulasi NEXT Indonesia Center memperkirakan defisit mencapai Rp782,2 triliun jika harga minyak US$88 per barel bertahan hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah kenaikan biaya energi.
Belanja Energi Tekan Ruang Fiskal
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyampaikan simulasi tersebut di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Menurut dia, kenaikan penerimaan negara dari sektor migas belum tentu mampu mengimbangi peningkatan belanja subsidi dan kompensasi energi.
“Ketika harga minyak bertahan tinggi, tambahan penerimaan berpotensi tidak sebanding dengan kenaikan belanja,” ujar Christiantoko.
NEXT Indonesia Center menggunakan harga West Texas Intermediate (WTI) sebagai pendekatan Indonesian Crude Price (ICP). Simulasi tersebut menggunakan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS dan PDB nominal Rp25.714,5 triliun, dengan faktor lainnya tetap.
Tiga Skenario Defisit APBN
Simulasi NEXT Indonesia Center menghasilkan tiga proyeksi berdasarkan durasi kenaikan harga minyak US$88 per barel.
Hingga Oktober: Pendapatan negara bertambah Rp37,4 triliun, sedangkan belanja meningkat Rp110 triliun. Defisit diperkirakan mencapai Rp761,8 triliun atau 2,96 persen PDB.
Hingga November: Pendapatan naik Rp42,6 triliun dan belanja bertambah Rp125,4 triliun. Defisit melebar menjadi Rp772 triliun atau sekitar 3 persen PDB.
Hingga Desember: Pendapatan meningkat Rp47,9 triliun, sementara belanja bertambah Rp140,9 triliun. Defisit diproyeksikan mencapai Rp782,2 triliun atau 3,04 persen PDB.
Angka tersebut berpotensi melampaui batas defisit 3 persen PDB sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Antisipasi untuk Menjaga Ketahanan Fiskal
NEXT Indonesia Center mencatat setiap kenaikan rata-rata ICP tahunan sebesar US$1 per barel berpotensi menambah pendapatan negara Rp3,5 triliun. Namun, kenaikan tersebut juga mendorong belanja sebesar Rp10,3 triliun sehingga defisit bertambah sekitar Rp6,8 triliun.
Christiantoko menegaskan, simulasi tersebut bukan gambaran pasti realisasi APBN 2026. Perkembangan harga minyak, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah akan menentukan hasil akhirnya.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap gejolak minyak global, pemerintah perlu memperkuat produksi migas domestik, meningkatkan efisiensi energi, dan mempercepat pengembangan energi alternatif.
Langkah antisipatif menjadi penting agar pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.