Menu

Mode Gelap
WaterBoom Lippo Cikarang Hadirkan Paket Splash and Snack Deal, Liburan Air Plus Cemilan Adira Finance Luncurkan HASANAH, Solusi Pembiayaan Syariah untuk Porsi Haji Plus di Adira Expo Solo Wamen Ekraf Bahas Kolaborasi Ekonomi Kreatif Indonesia-Korea Selatan Bersama KBRI Seoul Menpar Paparkan Rencana Kerja 2026 dan Capaian Pariwisata 2025 di Hadapan Komisi VII DPR Terdampak Banjir, Warga Kelurahan Harapanmulya Bangun Dapur Umum Primaya Hospital Bekasi Timur Ditunjuk sebagai Mitra Medis Resmi KONI Kota Bekasi untuk Porprov Jabar 2026

Seni & Budaya

Kong Harun, Sang Buaya Keroncong Betawi yang Gigih Lestarikan Irama Jakarta


					Kong Harun, Sang Buaya Keroncong Betawi yang Gigih Lestarikan Irama Jakarta Perbesar


MATRASNEWS, JAKARTA – Di tengah derasnya arus musik modern, Harun Rusli atau yang akrab disapa Kong Harun, tetap kukuh memainkan dan melestarikan keroncong Betawi.

Buaya Keroncong ini mengawali perjalanan musiknya sejak 1974, mengikuti jejak orang tuanya. Pada 1996, ia resmi mendirikan sanggar Keroncong Jakarta untuk lebih serius mengangkat warisan budaya tersebut.

“Kita lihat semua orang pada nge-band. Kalau kita tidak pertahankan, lama-lama (keroncong) hilang. Orang-orang lama sudah pada almarhum semua. Tinggal kita nih yang nerusin,” ujar Kong Harun, menyiratkan kekhawatiran sekaligus tekadnya.

Majalah Matras scaled

Ia menegaskan, keroncong Betawi yang ia geluti berbeda dengan keroncong Jawa. Keroncong Betawi memiliki pakem, format, tempo, dan instrumen khusus seperti double bass dengan teknik “double ankle” dan “double balik”. Sedangkan keroncong Jawa lebih sederhana. Perbedaan ini bahkan terlihat pada penyeteman alat musik dan istilah yang digunakan.

Untuk menarik minat generasi muda, Kong Harun dan sanggar kerap tampil dengan gaya dinamis, termasuk “keroncong tubuh”. Mereka pun fleksibel mengiringi lagu-lagu populer pilihan anak muda sebagai pintu masuk. “Biarin dia mau lagu pop, mau lagu-lagu dia suka, kita iringin. Kalau dia udah cinta, baru kita ajarin ini keroncong sebenarnya,” tuturnya.

Upaya pelestariannya telah membawa prestasi. Sanggar Keroncong Jakarta pernah tampil di Jambore Seribu Lagu di Semarang dan tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Mereka juga pernah mendapat undangan ke festival Tong Tong Fair di Belanda, meski akhirnya batal berangkat karena Pandemi Covid – 19.

Kini, di sanggarnya, Kong Harun terus berjuang. Baginya, keroncong Betawi adalah warisan yang harus dijaga agar tidak punah ditelan zaman. Semangatnya itu adalah nyala api kecil yang terus dijaganya untuk meneruskan irama khas Jakarta.

Kong Harun berharap, Pemerintah khusunya Provinsi DKI Jakarta lebih memperhatikan musik tradisional keroncong, khususnya Kroncong Jakarta, harapnya.

Cek Berita lain di Google News

Baca Lainnya

Max Havelaar, Saijah dan Adinda, Oleh: Tammat R. Talaohu Waketum Koordinasi Perekonomian Kadin Maluku

21 Januari 2026 - 15:01 WIB

Max Havelaar, Saijah dan Adinda, Oleh Tammat R. Talaohu Waketum Koordinasi Perekonomian Kadin Maluku

Pemuda Kaum Betawi Apresiasi Kebijakan Gubernur Jakarta Larang Kembang Api

28 Desember 2025 - 14:13 WIB

IMG 20251225 WA0021

Gebyar Seni Budaya Betawi Pukau Penonton dengan Komedi Legendaris Buaya Buntung

23 Desember 2025 - 12:36 WIB

IMG 20251223 WA0001

Pemerintah Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025

18 Desember 2025 - 00:08 WIB

Pemerintah Tetapkan 514 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025

Gubernur DKI Terima Rekomendasi Kongres Istimewa Kaum Betawi, Tegaskan Komitmen Penguatan Budaya

16 Desember 2025 - 00:14 WIB

Gubernur DKI Terima Rekomendasi Kongres Istimewa Kaum Betawi, Tegaskan Komitmen Penguatan Budaya
Trending di Seni & Budaya
error: Matras News