MATRASNEWS, JAKARTA – Ribuan kilometer dari Jakarta, di sebuah museum etnologi terbesar di Eropa, Calvin Abdiel Tambunan tak sekadar memainkan piano. Ia merajut kembali benang sejarah yang terputus antara gamelan Jawa dan musik klasik Barat.
Pianis berdarah Batak kelahiran Jakarta itu menggelar konser di Museum am Rothenbaum Kulturen und Künste der Welt (MARKK), Hamburg, pada Minggu (6/9). Di museum yang menyimpan gamelan pertama yang pernah dipentaskan di luar negeri yang didengar Claude Debussy pada Paris Expo 1889 Calvin memilih program yang sarat narasi.
“Konser ini bukan sekadar resital. Ini dialog peradaban,” ujar Geraldus Martimbang, peneliti Technical University Munich yang menjadi pembicara dalam talkshow sebelum konser.
Calvin membawakan Rapsodia Nusantara No. 27 karya Ananda Sukarlan yang menggunakan motif “Gending Sriwijaya” dan “Dek Sangke” dari Sumatera Selatan. Ia juga memainkan “Batik Carved on Music”—karya yang terinspirasi dari piano terakhir produksi Yamaha Indonesia sebelum pabriknya tutup pada akhir 2025.
Dua karya komponis Indonesia itu disandingkan dengan “Pagodes” karya Claude Debussy, “Galamb Borong” dari György Ligeti, dan satu nomor dari “Java Suite” karya Leopold Godowsky.
Pilihan program ini bukan kebetulan. Debussy menulis “Pagodes” setelah terpukau oleh gamelan yang kini tersimpan di MARKK. Karya itu menjadi titik balik dalam sejarah musik klasik—saat unsur gamelan mulai meresap ke dalam komposisi Barat.
MARKK, yang terletak di kawasan Rotherbaum, Hamburg, menyimpan sekitar 350.000 objek etnografi. Museum yang dikunjungi 180.000 orang per tahun ini merawat gamelan yang dipentaskan di Paris Expo 1889.
Di sanalah Debussy pertama kali mendengar gamelan. Komponis Prancis itu kemudian mempelajari berbagai elemen gamelan dan mengintegrasikannya ke dalam karyanya. Pengaruh itu menyebar ke komponis Prancis lain seperti Francis Poulenc dan Olivier Messiaen, lalu ke Inggris melalui Benjamin Britten dan Sir Michael Tippett, hingga ke Kanada melalui Colin McPhee.
“Calvin menyempurnakan sebuah lingkaran,” jelas Henry Spiller, etnomusikolog dari University of California Davis yang memberi ceramah sehari sebelumnya di restoran Indonesia Dapur Mama, Hamburg. “Musik Indonesia, melalui gamelan yang berada di MARKK, pernah memengaruhi jalannya sejarah musik Barat. Kini, amalgam musik tradisi Barat itu mempengaruhi musik komponis Indonesia dan menjadikannya mendunia.”
Calvin yang meraih juara ketiga Sydney International Piano Competition 2021 dan juara pertama Ananda Sukarlan Award 2020 ini telah tampil di berbagai panggung bergengsi di Australia, Eropa, dan Asia. Ia konsisten membawakan Rapsodia Nusantara kini berjumlah 45 nomor yang mengeksplorasi motif dan melodi lagu daerah dari berbagai provinsi.
Rapsodia Nusantara juga merangkul nilai inklusivitas. Beberapa nomor ditulis khusus untuk satu tangan, termasuk untuk penyandang disabilitas.
Rapsodia Nusantara juga merangkul nilai inklusivitas. Beberapa nomor ditulis khusus untuk satu tangan, termasuk untuk penyandang disabilitas.
“Melalui konser ini, Calvin membuktikan bahwa musik Indonesia tidak hanya mampu bertahan di panggung global, tetapi juga menjadi bagian dari narasi besar sejarah musik dunia,” pungkas Spiller.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.