Pendiri Sanggar Silibet Jakarta menyatakan budaya sebagai fondasi utama dalam menjaga moral generasi penerus bangsa.
Budaya sebagai Jati Diri
MATRASNEWS, JAKARTA – Ramdani, pendiri Sanggar Silibet Jakarta, menegaskan peran krusial kebudayaan dalam membentuk karakter anak muda. Menurutnya, budaya Betawi bukan sekadar kesenian, melainkan jantung yang menjaga adab, sopan santun, dan etika generasi penerus.
Pernyataan tersebut ia sampaikan di sela kegiatan sanggar di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. “Kebudayaan itu sesuatu yang dikerjakan berulang-ulang. Orang tua kita dulu mengajarkan jangan lupa budaya Betawi. Jika budaya ditinggalkan, kita akan tergerus zaman,” tegasnya.
Sanggar yang berdiri sejak 2009 ini berawal dari perguruan pencak silat Inti Raga Silibet. Kini, sanggar tersebut telah bertransformasi menjadi wadah kolaborasi seni yang menaungi berbagai kesenian Betawi, mulai dari gambang kromong, lenong, hingga ondel-ondel.
Ramdani mengakui tantangan pelestarian budaya di era modern cukup berat. Perubahan pola hidup, di mana anak-anak bersekolah dari pagi hingga sore, menyulitkan mereka mempelajari silat, marawis, atau mengaji.
“Saya mulai belajar silat dari kakek yang juga seniman Betawi sejak usia enam tahun. Sekarang, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah,” ujarnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Sanggar Silibet menciptakan metode latihan di waktu libur sekolah atau kerja. Pendekatan ini terbukti efektif menjaring minat generasi muda.











Komentar ditutup.