Sanggar Silibet terus berinovasi agar kesenian Betawi tetap relevan di telinga generasi modern. Salah satu terobosan adalah Gambang Kromong Orkestra, yang memadukan alat musik tradisional dengan aransemen modern.
“Kami membuat inovasi dan pengembangan terbaru. Gambang kromong yang biasanya tradisional murni, kami mainkan dengan gaya modern. Efeknya, musik ini tak lagi dikenal jadul dan membosankan,” jelas Ramdani.
Semangat kolaborasi juga menjadi kunci pelestarian. Sanggar Silibet tercatat aktif berkolaborasi lintas sanggar, termasuk dengan Kong Harun dari Sanggar Irama Jakarta yang mengkhususkan pada musik keroncong, hingga Sanggar Hadroh Nur Nabawi.
“Betawi itu banyak sekali kolaborasi. Ada campuran Cina, Portugis, Belanda, Arab. Makanya lihat orang Betawi, ada yang matanya sipit, ada yang hidungnya mancung. Gabungan-gabungan itu sudah ada dari dulu,” paparnya menjelaskan.
Ramdani mengapresiasi dukungan pemerintah, khususnya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, yang mewajibkan sanggar-sanggar tertib administrasi. Hal ini memudahkan proses kolaborasi dan pemberian hibah alat musik bagi sanggar yang membutuhkan.
Ke depan, Ramdani berharap sanggar-sanggar dapat masuk ke institusi pendidikan sebagai ekstrakurikuler. “Kami ingin menyosialisasikan dan mengajukan ekstrakurikuler ke sekolah-sekolah, seperti pencak silat, tari, musik gambang kromong, keroncong, dan lain-lain,” pungkasnya, Minggu (9/8/2026).
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.