MATRASNEWS, ACEH BESAR — Peran perempuan dalam menjaga perdamaian, membantu pemulihan pascakonflik, serta memperkuat ketangguhan masyarakat kembali menjadi perhatian dalam pemutaran film dokumenter Inong Peudame – Together, We Were Brave di Orion Hall, Aceh Besar, Rabu, 30 September 2026.
Film berdurasi sekitar 30 menit itu merekam kisah aktivis perempuan, penyintas konflik, tokoh masyarakat, kelompok perempuan akar rumput, dan penggerak komunitas yang berkontribusi dalam perjalanan perdamaian Aceh.
Kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 80 peserta dari unsur pemerintah, organisasi masyarakat sipil, perempuan pembangun perdamaian, akademisi, generasi muda, kelompok penyandang disabilitas, serta mitra pembangunan.
Dari Perdamaian ke Ketangguhan
Dialog setelah pemutaran film membahas pengalaman perempuan Aceh dari masa konflik hingga periode pemulihan. Pembicaraan mencakup ingatan kolektif, kehilangan, hubungan antargenerasi, perlindungan perempuan, serta keterlibatan kelompok disabilitas.
Persoalan itu kemudian dikaitkan dengan kebutuhan memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Pengalaman perempuan di tingkat komunitas dinilai relevan untuk memperbaiki kesiapsiagaan dan sistem perlindungan masyarakat.
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menyebut pengalaman perempuan Aceh dapat menjadi pembelajaran untuk membangun ketangguhan masyarakat yang inklusif. Ia juga menekankan pentingnya data berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas dalam perencanaan kebencanaan.
Perempuan dan Kebijakan
Sesi berikutnya membahas kepemimpinan perempuan dalam perdamaian, aksi kemanusiaan, pembangunan, dan pengurangan risiko bencana. Forum juga mengaitkan pengalaman perempuan Aceh dengan RAN P3AKS 2026–2029 serta program KITA TANGGUH Kemenko PMK.
Direktur Flower Aceh, Riswati, menyoroti masih terbatasnya ruang perempuan dalam pengambilan keputusan strategis. Padahal, perempuan berperan dalam pengorganisasian bantuan, dapur umum, evakuasi, dan berbagai respons kemanusiaan di tingkat masyarakat.
Keterlibatan perempuan dalam perdamaian Aceh bukan gagasan baru. Pada 19–22 Februari 2000, sekitar 450 perempuan mengikuti Duek Pakat Inong Aceh (DPIA) pertama. Forum tersebut menghasilkan rekomendasi untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai dan kemudian melahirkan Balai Syura Ureung Inong Aceh.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.