Matras News, Bekasi – Ratusan kios Pasar Jatiasih Kota Bekasi terpantau kosong. Hal ini imbas dari maraknya penjualan online, sehingga keberadaan pedagang pasar tradisional tersebut mulai tersisihkan.
Saat ditemui matrasnews.com, Pengelola Pasar Jatiasih, Rudi Rosadi membenarkan jika saat ini banyak kios pedagang yang dikelolanya kosong.
“Kurang lebih 200 kios disini yang kosong,” ujar Rudi pada, Senin 14 Oktober 2024.
Rudi mengatakan, tutupnya kios pedagang tersebut terjadi sudah cukup lama. Hal ini imbas dari maraknya pedagang yang menjual dagangannya secara online.
“Para pedagang disini omset jualannya kalah sama mereka yang berdagangnya secara online, jadi pendapatannya menurun,” katanya menegaskan.
Rudi menjelaskan, misalkan saja pedagang baju. Mereka mengambil dagangnya dari pasar Tanah Abang seharga Rp100 ribu per bajunya. Ketika ada yang menjual baju yang sama secara online dan lebih murah, konsumen langsung memilih berbelanja secara online bukan datang kesini karena dari segi harga lebih murah.
“Disinikan ada pedagang sayuran, daging, pakaian, mainan, makanan dan lain-lain. Ketika ada yang menjual produk yang sama dengan harga jual lebih murah dan langsung ke tangan pembeli, mau tidak mau, pasti lebih memilih belanja secara online dan tidak mau datang kesini. Dan imbas itulah yang sampai saat ini masih kami cari solusinya,” terang Rudi.
Hendrik, salah seorang pedagang kelapa santan, juga mengungkapkan hal serupa. Saat ini, pembeli yang datang ke lapak miliknya untuk membeli kelapa santan, bisa dihitung dengan jari jumlahnya.
“Ya mas, bisa dihitung pakai jari yang beli setiap harinya,” keluh Hendrik.
Hendrik mengatakan, sepinya pembeli di Pasar Jatiasih tersebut sudah menjadi pemandangan biasa bagi dirinya.
“Sudah biasa seperti ini dan bukan hanya baru kali ini saja, sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu sampai sekarang,” bebernya.
Hal serupa juga diutarakan salah seorang pedagang pakaian. Saat ini dirinya mengaku barang dagangan yang ia jajakan, kalah dengan para pemilik usaha dagang yang menjajakannya secara online.
“Bisa dilihat sendiri mas, pembelinya bisa dihitung pakai jari per harinya. Dan kami kalah dengan pedagang online,” jelasnya.











