MATRASNEWS, JAKARTA – Salatiga, 3 Juli 1916, menjadi saksi kelahiran seorang anak yang kelak mengukir sejarah. Adisutjipto, yang akrab disapa Cip, tumbuh menjadi pribadi cerdas. Ia menempuh pendidikan di Geneeskundige Hoge School, sekolah tinggi kedokteran ternama. Tidak berhenti di situ, Cip melanjutkan studinya di Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati, Subang. Jiwa penerbangnya mulai terbentuk di sana.
Kiprah di Dunia Penerbangan
Tanggal 15 November 1945 menandai babak baru. Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi kekuatan udara Indonesia. Ketika berusia 31 tahun, saat Agresi Militer Belanda I meletus, Cip menerima tugas berbahaya. Ia bersama Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA.
Misi Berbahaya ke India
Cip berhasil menerobos blokade udara Belanda. Pesawatnya langsung bertolak ke India dan Pakistan. Sebelum pulang ke Indonesia, mereka singgah di Singapura. Di sana, mereka mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya.
Menanti di Lanud Maguwo
Di Lanud Maguwo, Kepala Staf S. Suryadarma menunggu kedatangan pesawat tersebut. Ia sudah memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat. Perintah ini bertujuan menghindari kemungkinan serangan udara. Selain itu, ada dua tokoh penting AURI di dalamnya, yakni Cip dan Abdulrachman Saleh.
Serangan Maut Kittyhawk
Namun, saat telah mendekati Lanud Maguwo, pesawat ini tetap berputar untuk bersiap mendarat. Tak disangka, tiba-tiba dari arah utara, muncul dua pesawat Kittyhawk milik Belanda. Pesawat ini diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens. Mereka langsung memberondong pesawat yang dikemudikan Noel Constantine dan Roy Hazelhurst. Pesawat pun hilang kendali dan jatuh di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo.
Korban dan Penghormatan
Enam orang di pesawat meninggal dunia, termasuk Cip, sang pilot pemberani. Dalam peristiwa itu, hanya A. Gani Handonocokro yang berhasil selamat. Jenazah Cip dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II. Kemudian, pada tanggal 14 Juli 2000, makamnya dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Untuk menghormati jasa dan keberaniannya, Lapangan Udara Maguwo diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto.
Ikuti berita terkini di Google News











Komentar ditutup.