MATRASNEWS, SURABAYA – Dalam menghadapi tantangan krisis energi global, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan komitmennya melalui inovasi nyata. Mereka adalah Tim Antasena, pionir pengembangan kendaraan energi bersih berbasis hidrogen yang telah menorehkan prestasi di kancah internasional.
Bagi tim ini, masa depan transportasi terletak pada hidrogen—molekul paling melimpah di alam semesta. Berbeda dengan bahan bakar fosil, hidrogen hanya menghasilkan emisi uap air (H₂O) ketika digunakan, menjadikannya kandidat utama energi hijau masa depan.
“Fokus kami bukan sekadar kompetisi, tapi menciptakan solusi transportasi yang berkelanjutan,” jelas salah satu anggota tim. Tim Antasena secara konsisten mengembangkan teknologi fuel cell dan rancang bangun kendaraan ultra-hemat energi, membuktikan hidrogen dapat menjadi penggerak transportasi yang praktis dan aman.
Inovasi mereka berpusat pada tiga pilar: efisiensi konsumsi hidrogen untuk jarak tempuh optimal, desain aerodinamis penuh presisi, serta pengembangan sistem penyimpanan dan distribusi hidrogen yang menjamin keamanan pengguna.
Dedikasi tersebut membuahkan hasil. Tim Antasena rutin mewakili Indonesia di ajang bergengsi dunia seperti Shell Eco-marathon, bersaing dengan universitas terbaik global. Keikutsertaan mereka menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa dalam teknologi hidrogen mampu diperhitungkan secara internasional.
Keberadaan Tim Antasena menegaskan bahwa transisi energi bersih bukan sekadar wacana, tetapi sebuah gerakan yang digerakkan oleh generasi muda Indonesia. Mereka adalah bukti hidup bahwa masa depan energi hijau harus dirancang, dirakit, dan diwujudkan oleh tangan-tangan terampil yang yakin pada perubahan.
“Ini adalah kontribusi nyata kami untuk Indonesia dan dunia,” pungkas mereka.
Cek Berita lain di Google News











