Menu

Mode Gelap
Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi Borong Aspirasi Warga Kaliabang Tengah DPRD Kota Bekasi, Kamil Syaikhu Dorong Percepatan Perda Sampah dan Pelatihan Disabilitas DPRD Kota Bekasi Arif Rahman Hakim Soroti Banjir dan Nasib Juru Parkir DPRD Kota Bekasi, Evi Mafriningsianti Dorong Aspirasi Masyarakat Sejalan dengan Fokus Belanja Pemerintah Rano Karno: Jakarta dan Cianjur Tak Boleh Jalan Sendiri Restoran A.RA.SA di Ascott Menteng Jakarta Hadirkan Santapan Ramadan Eksklusif

Gaya Hidup Sehat

Tubektomi dan Vasektomi Efek Samping hingga Risiko Kesehatan

badge-check


					Tubektomi dan Vasektomi Efek Samping hingga Risiko Kesehatan Perbesar

Matras News – Tubektomi dan vasektomi kerap dipilih sebagai metode kontrasepsi permanen oleh pasangan yang tidak ingin lagi memiliki anak.

Namun, di balik klaim efektivitasnya yang tinggi, kedua prosedur ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang jarang diungkap.

Menurut dokter dan ahli endokrin memperingatkan potensi gangguan hormonal, peningkatan risiko penyakit tertentu, serta efek psikologis yang bisa muncul pascaoperasi.

Tubektomi: Bukan Hanya Soal Mandul

Tubektomi, atau pengikatan tuba falopi pada perempuan, sering dianggap sebagai solusi kontrasepsi tanpa efek berarti. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa prosedur ini dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan siklus menstruasi.

Meski indung telur tetap memproduksi hormon, gangguan aliran darah ke ovarium pasca-tubektomi bisa menyebabkan menopause dini atau nyeri panggul kronis.”

Selain itu, studi dalam Journal of Women’s Health (2023) menemukan bahwa perempuan yang menjalani tubektomi berisiko lebih tinggi mengalami endometriosis dan kista ovarium akibat perubahan dinamika cairan dalam sistem reproduksi.

Vasektomi: Bukan Tanpa Komplikasi

Sementara itu, vasektomi pemotongan saluran sperma pada laki-laki sering dianggap lebih aman. Namun, riset terbaru mengungkap bahwa 1 dari 10 pria mengalami sindrom nyeri pasca-vasektomi (PVPS), yaitu nyeri testis berkepanjangan yang sulit diobati.

Vasektomi juga meningkatkan risiko prostatitis (radang prostat) dan mungkin berkaitan dengan gangguan autoimun akibat reaksi tubuh terhadap sperma yang terjebak.

Efek Psikologis dan Penyesalan

Tak hanya dampak fisik, banyak pasien melaporkan penyesalan pascaoperasi, terutama jika terjadi perubahan dalam hubungan rumah tangga.

Data dari Kementerian Kesehatan (2024) menunjukkan bahwa 15% pasien vasektomi/tubektomi di Indonesia berusaha melakukan reversial (pembalikan prosedur), namun tingkat keberhasilannya hanya 30-40%.

Alternatif yang Lebih Aman

Ahli fertilitas menyarankan pasangan mempertimbangkan metode kontrasepsi jangka panjang non-permanen, seperti IUD atau implan hormon, sebelum memutuskan tindakan steril.

Konseling praoperasi sangat penting untuk memastikan pasangan benar-benar memahami risikonya.

Meski efektif mencegah kehamilan, tubektomi dan vasektomi bukan tanpa risiko. Edukasi menyeluruh dan pemahaman akan efek jangka panjang menjadi kunci sebelum mengambil keputusan permanen.

 

Baca Lainnya

Primaya Hospital Tangerang Resmikan Poliklinik Eksekutif

13 Februari 2026 - 00:06 WIB

Primaya Hospital Tangerang

Kemenkes Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata untuk Tekan Gangguan Penglihatan

4 Februari 2026 - 01:09 WIB

Kemenkes Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata untuk Tekan Gangguan Penglihatan

Waspadai Hidden Hunger, Ini Kata dr. Monique Carolina Primaya Hospital Tangerang

2 Februari 2026 - 01:21 WIB

dr.MoniqueCarolinaWidjajaM.GiziSp.GKDokterSpesialisGizidiPrimayaHospitalTangerang copy 2139x1680

RSCM dan Aryaduta Menteng Kolaborasi Kembangkan Wisata Medis

30 Januari 2026 - 21:21 WIB

IMG 20260130 WA0036 copy 961x571

RS Karunia Kasih Kolaborasi dengan IBI dan Panin Bank, Tingkatkan Kualitas Bidan Mandiri di Bekasi

30 Januari 2026 - 05:17 WIB

RS Karunia Kasih Kolaborasi dengan IBI dan Panin Bank, Tingkatkan Kualitas Bidan Mandiri di Bekasi
Trending di Gaya Hidup Sehat
error: Matras News