Menu

Mode Gelap
Inspeksi Mendadak Ditjen Hubdat di Pool Xanh SM Bekasi Anggota DPRD Minta Evaluasi Total Sistem Perlintasan Anggota DPRD Kota Bekasi, Ahmad Murodi Desak KAI Tutup Perlintasan Sebidang Berita Terkini 16 Tewas, 91 Luka Tragedi Tabrakan KA di Bekasi Timur Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Jenguk Korban Tabrakan KRL, Minta Pasang Palang Pintu Darurat Uji Coba KRL Bekasi–Cikarang Berlangsung Aman

Gaya Hidup Sehat

3 Gejala Batuk Rejan Pada Anak-Anak Mudah Menular

badge-check


					3 Gejala Batuk Rejan Pada Anak-Anak Mudah Menular Perbesar

Matras News – Batuk salah satu penyakit yang sering kita temukan dimana-mana. Penyakit Batuk tidak mengenal kalangan usia. Salah Satunya Batuk Rejan.

Di kutip dari dr. Suryadi Susanto, Sp.A  Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Tangerang. Batuk Rejan adalah jenis batuk yang sangat mengganggu dan mudah menular. Batuk yang terjadi secara terus-menerus ini juga bisa berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. Untuk itu, perlu penanganan yang memadai agar gejala dapat terkendali dan tidak terjadi penularan lebih luas. 

Mengenal Batuk Rejan 

Batuk rejan adalah penyakit pernapasan yang sangat menular. Penyakit akibat infeksi bakteri ini menyebabkan serangan batuk yang parah, kadang disertai muntah dan suara rejan yang terdengar seperti kesulitan napas. Disebut juga pertusis, batuk rejan bisa bertahan hingga tiga bulan sehingga juga dikenal sebagai “batuk seratus hari”. 

Gejala batuk rejan lebih jelas pada anak-anak karena bayi dan orang dewasa lebih jarang mengeluarkan suara rejan ketika mengalami batuk pertusis. Seiring dengan berkembangnya gejala, komplikasi bisa terjadi, terutama pada bayi. Bayi berusia di bawah 12 bulan paling berisiko mengalami komplikasi yang serius. Bayi yang tidak mendapat vaksin pertusis sesuai dengan jadwal lima kali lipat lebih mungkin menjalani rawat inap akibat batuk rejan daripada bayi yang divaksin tepat waktu. 

Banyak bayi tertular dari kakak atau orang tuanya, seringkali sebelum mereka cukup umur untuk mendapat vaksinasi penuh. Karena kekebalan berkurang seiring dengan waktu, semua orang dewasa berpotensi menjadi sumber infeksi bagi bayi. Orang yang sakit batuk rejan cenderung bisa menulari orang lain dari sepekan sebelum mereka mulai batuk sampai tiga pekan setelah mulai batuk. 

Adapun bagi remaja dan orang dewasa, batuk rejan biasanya lebih ringan. Terutama jika dulu sudah mendapat vaksin ketika bayi. Meski begitu, tetap ada kemungkinan komplikasi, rawat inap, dan kematian. 

Gejala 

Gejala batuk rejan yang utama adalah batuk yang terjadi terus-menerus hingga tiga bulan. Kemunculan gejala bisa dibedakan menjadi tiga tahap, yakni: 

Tahap 1 

Hidung meler, bersin, demam, dan batuk ringan yang memburuk dalam 1-2 pekan. 

Tahap 2 

Mulai ada serangan batuk. Pada setiap akhir serangan, ada suara rejan yang keras. Tahap ini bisa membahayakan bagi bayi dan anak kecil. Selama serangan, kulit mereka bisa terlihat membiru dan sulit bernapas. Tahap ini biasanya berlangsung selama 1-6 pekan. 

Tahap 3 

Batuk mulai mereda secara perlahan dan hilang dalam 2-3 pekan. 

Penyebab 

Penyakit batuk rejan disebabkan oleh bakteri pertussis. Ketika ada satu orang yang terinfeksi, bakteri Bordetella pertussis mudah menginfeksi orang lain yang tinggal di satu rumah, terutama yang belum menerima vaksin pertusis. Anak sekolah dan remaja cenderung mudah tertular oleh siswa lain atau teman. 

Seseorang bisa mengalami pertusis ketika terinfeksi bakteri Bordetella pertussis yang masuk ke tubuh lewat droplet dari orang lain yang sedang sakit. Bakteri ini menempel pada struktur kecil seperti rambut yang melapisi sistem pernapasan bagian atas serta melepaskan racun yang menyebabkan kerusakan. Karena itu, saluran udara jadi membengkak dan menyebabkan masalah pernapasan. 

Cara Dokter Mendiagnosis Batuk Rejan 

Dokter dapat mendiagnosis batuk rejan dengan pertama-tama menanyakan gejala yang dialami dan apakah sebelumnya pernah melakukan kontak dengan orang lain yang terinfeksi batuk itu. Bila dokter menduga kuat pasien mengalami batuk rejan, dokter akan melakukan tes usap, yakni mengambil sampel dari belakang hidung dan mengirimnya ke laboratorium untuk mengonfirmasi diagnosis. 

Tes usap paling akurat menggunakan metode reaksi berantai polimerase (PCR) dengan sampel dari hidung dan tenggorokan serta dikombinasikan dengan pemeriksaan riwayat klinis pasien. Kadang dokter juga meminta tes darah untuk mengukuhkan diagnosis. 

Cara Mengatasi Batuk Rejan 

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan pasien batuk rejan. Pada tahap awal infeksi, obat antibiotik seperti eritromisin bisa digunakan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. Obat ini bisa mengurangi gejala jika diberikan sejak awal. 

Penanganan dini terhadap batuk rejan sangat penting untuk membantu mengurangi tingkat keparahan, durasi, dan risiko komplikasi, khususnya pada bayi. Jadi, ketika sudah ada diagnosis, hal pertama yang harus dilakukan adalah mendapatkan antibiotik secepatnya. 

Selain itu, ada beberapa cara mengatasi batuk rejan yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah, terutama untuk meredakan batuk yang terjadi terus-menerus dalam satu waktu. 

Minum air hangat 

Gunakan pelembap udara di kamar 

Gunakan obat tetes hidung salin untuk menghilangkan lendir yang kental 

Minum banyak air putih 

Hindari pemicu batuk seperti asap rokok, parfum, atau polutan 

Jika batuk rejan sudah berlangsung lebih dari tiga pekan, dokter biasanya tidak akan meresepkan antibiotik karena bakteri sudah hilang dari dalam tubuh. Pada tahap ini, gejala umumnya akan membaik sendiri. Namun dokter perlu mengecek apakah ada kerusakan dalam tubuh akibat infeksi sebelumnya. 

Komplikasi 

Gejala batuk rejan yang berkembang dapat mengarah ke komplikasi. Bayi lebih rentan mengalami komplikasi berupa pneumonia, gagal jantung, paru-paru kolaps, perdarahan otak, hingga kematian. Adapun anak yang lebih besar dan orang dewasa bisa muntah, tak bisa mengendalikan buang air kecil, dan patah tulang rusuk lantaran batuk terlalu keras. 

Komplikasi lain yang mungkin terjadi termasuk: 

Dehidrasi 

Penurunan berat badan 

Infeksi telinga 

Kekurangan oksigen 

Perdarahan di mata 

Henti napas saat tidur di malam hari 

Peradangan otak 

Kejang 

Pencegahan 

Batuk rejan bisa dicegah dengan menggunakan vaksin. CDC menjelaskan bahwa vaksin pertusis efektif meski tidak sempurna. Orang yang sudah mendapat vaksin masih bisa tertular, tapi tingkat keparahan penyakitnya lebih rendah daripada orang yang belum divaksin. 

Ibu hamil disarankan mendapat vaksin ini untuk melindungi bayi dalam kandungan. Kemudian bayi yang telah lahir perlu mengikuti vaksinasi sesuai dengan jadwal. Selain itu, penting untuk menjaga kebersihan setiap hari termasuk dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Jika tak ada air, bisa menggunakan hand sanitizer. 

 Kapan Harus ke Dokter? 

Batuk rejan tergolong sebagai penyakit yang dapat reda sendiri tanpa penanganan medis. Namun lebih baik periksakan diri bila menduga mengalami batuk rejan agar lebih cepat pulih dengan obat dari dokter. Kondisi bayi yang mengalami batuk ini juga perlu dipantau dengan saksama. Bila bayi tampak kesulitan bernapas, segera bawa ke rumah sakit agar bisa secepatnya ditangani.  (*/hr)

Baca Lainnya

Klinik Utama GP+ Medical & Paincare Hadirkan Revolusi Penanganan Nyeri Tanpa Bedah

27 April 2026 - 00:26 WIB

EMC Healthcare dan Prudential Tingkatkan Pelayanan Pasien

22 April 2026 - 00:35 WIB

EMC Healthcare dan Prudential Tingkatkan Pelayanan Pasien

Kemenkes Luncurkan Program Titian, Percepat Lulusan Psikolog Klinis untuk Puskesmas

14 April 2026 - 00:04 WIB

Mengenal dan Mencegah Penyakit Metabolik pada Lansia, Ini Kata dr. Dhea RS Karunia Kasih

15 Maret 2026 - 01:54 WIB

Mengenal dan Mencegah Penyakit Metabolik pada Lansia, Ini Kata dr. Dhea RS Karunia Kasih

dr. Johny Berikan Pemaparan Kesehatan Penurunan Fungsi Kognitif dan Demensia pada Lansia

15 Maret 2026 - 01:18 WIB

Dr. Johny Berikan Pemaparan Kesehatan Kognitif Kepada 101 Lansia di Bekasi
Trending di Gaya Hidup Sehat