Menu

Mode Gelap
Kebaya Noni Melenggang di Hari Kebaya Nasional Darya-Varia Buka Jalan bagi Peneliti Perempuan di Usia Emas 50 Tahun Anak Muda Berteriak, Aktivis 98 dan Mahasiswa Kaji Ulang Kondisi Bangsa Politik adalah Ibadah Pengabdian, Bukan Mesin Kekayaan Menko Yusril Minta Polda Jabar Tingkatkan Patroli dan Cegah Main Hakim Sendiri Zona Buang Ditutup, TPST Bantargebang Bertahap Tinggalkan Open Dumping

News

Anak Muda Berteriak, Aktivis 98 dan Mahasiswa Kaji Ulang Kondisi Bangsa

badge-check

Anak Muda Berteriak, Aktivis 98 dan Mahasiswa Kaji Ulang Kondisi Bangsa Perbesar


MATRASNEWS, JAKARTA – Komunitas 98 Garis Lucu menggelar forum diskusi publik bertajuk “98 Menggugat Jilid 2: Anak Muda Berteriak” di Guyonan Cafe, Jakarta. Kegiatan itu mempertemukan aktivis mahasiswa lintas kampus dengan para Aktivis 1998 untuk membahas persoalan kebangsaan.

Diskusi dibuka oleh Aktivis 98 Alex Leonardo. Aktivis NocturNo Brahma Heru Pamungkas membacakan puisi bertema polemik pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Ignatius Indro memandu jalannya diskusi.

Pembicara menyoroti sejumlah isu nasional. Mulai dari dugaan kasus korupsi, penegakan hukum, hingga pelaksanaan program pemerintah.

Hotmartua Simanjuntak, Ketua Umum GHARIS, menilai masih banyak ketidakadilan yang dirasakan masyarakat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Semangat reformasi lahir untuk menghadirkan keadilan. Ketika masyarakat masih merasakan banyak ketidakadilan, tugas moral kita mengingatkan pemerintah agar kembali berpihak kepada rakyat,” ujar Hotmartua.

Deodatus Sunda alias Dendi, Ketua DPD GMNI Jakarta, menyoroti program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, kebijakan publik memerlukan kajian matang.

“Program yang tidak disusun secara cermat berpotensi menimbulkan dampak tidak diharapkan bagi masyarakat,” kata Dendi.

Fransisca Angela dari Universitas Atma Jaya menyoroti kasus hukum yang menjadi perhatian publik. “Masyarakat membutuhkan kepastian hukum dan penegakan hukum adil,” ujarnya.

Ardhyansah, aktivis Jentera, menilai terjadi kecenderungan meningkatnya peran militer dalam pemerintahan. “Demokrasi membutuhkan supremasi sipil kuat,” tegasnya.

Aktivis STF Driyarkara, Arif Bobhil, mengingatkan pentingnya menjaga cita-cita reformasi. “Konstitusi tidak boleh diubah hanya demi kepentingan politik jangka pendek,” ujarnya.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Politik adalah Ibadah Pengabdian, Bukan Mesin Kekayaan

27 Juli 2026 - 01:08 WIB

Menko Yusril Minta Polda Jabar Tingkatkan Patroli dan Cegah Main Hakim Sendiri

27 Juli 2026 - 00:55 WIB

Zona Buang Ditutup, TPST Bantargebang Bertahap Tinggalkan Open Dumping

27 Juli 2026 - 00:50 WIB

Warga Bekasi Laporkan Kepala Dukcapil ke Polisi atas Dugaan Pemalsuan Akta Cerai

26 Juli 2026 - 00:50 WIB

Terminal Tipe A Alam Barajo Terus Tingkatkan Layanan dan Optimalisasi Aset

25 Juli 2026 - 02:14 WIB

Trending di News