MATRASNEWS, JAKARTA – Komunitas 98 Garis Lucu menggelar forum diskusi publik bertajuk “98 Menggugat Jilid 2: Anak Muda Berteriak” di Guyonan Cafe, Jakarta. Kegiatan itu mempertemukan aktivis mahasiswa lintas kampus dengan para Aktivis 1998 untuk membahas persoalan kebangsaan.
Diskusi dibuka oleh Aktivis 98 Alex Leonardo. Aktivis NocturNo Brahma Heru Pamungkas membacakan puisi bertema polemik pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Ignatius Indro memandu jalannya diskusi.
Pembicara menyoroti sejumlah isu nasional. Mulai dari dugaan kasus korupsi, penegakan hukum, hingga pelaksanaan program pemerintah.

Hotmartua Simanjuntak, Ketua Umum GHARIS, menilai masih banyak ketidakadilan yang dirasakan masyarakat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Semangat reformasi lahir untuk menghadirkan keadilan. Ketika masyarakat masih merasakan banyak ketidakadilan, tugas moral kita mengingatkan pemerintah agar kembali berpihak kepada rakyat,” ujar Hotmartua.
Deodatus Sunda alias Dendi, Ketua DPD GMNI Jakarta, menyoroti program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, kebijakan publik memerlukan kajian matang.
“Program yang tidak disusun secara cermat berpotensi menimbulkan dampak tidak diharapkan bagi masyarakat,” kata Dendi.
Fransisca Angela dari Universitas Atma Jaya menyoroti kasus hukum yang menjadi perhatian publik. “Masyarakat membutuhkan kepastian hukum dan penegakan hukum adil,” ujarnya.
Ardhyansah, aktivis Jentera, menilai terjadi kecenderungan meningkatnya peran militer dalam pemerintahan. “Demokrasi membutuhkan supremasi sipil kuat,” tegasnya.
Aktivis STF Driyarkara, Arif Bobhil, mengingatkan pentingnya menjaga cita-cita reformasi. “Konstitusi tidak boleh diubah hanya demi kepentingan politik jangka pendek,” ujarnya.












Komentar ditutup.