Menu

Breaking News

News

Ancaman Defisit Rp30 Triliun dan Penonaktifan 11 Juta Peserta PBI Membayangi JKN

badge-check

Ancaman Defisit Rp30 Triliun dan Penonaktifan 11 Juta Peserta PBI Membayangi JKN Perbesar


Krisis Data dan Tunggakan Iuran Mengancam Keberlangsungan Jaminan Kesehatan Nasional

MATRASNEWS, JAKARTA – Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menghadapi tekanan berat. Ancaman defisit hingga Rp30 triliun, penonaktifan sekitar 11 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), serta ketidaksesuaian data kelompok miskin menjadi tantangan utama.

Persoalan ini berakar pada pengelolaan data di bawah kewenangan Kementerian Sosial yang tidak sinkron. Akibatnya, banyak warga miskin kehilangan akses layanan kesehatan.

60-80% Rumah Sakit Hidup dari BPJS

Pengamat menilai peran BPJS Kesehatan sangat krusial. Sebagian besar rumah sakit nasional kini menggantungkan pendapatan dari skema BPJS.

“Rumah sakit sekarang, 60-80% hidup dari BPJS. Mereka mengantri untuk jadi mitra BPJS,” ungkap Lula, pakar kebijakan publik.

Kesehatan adalah Hak Dasar Konstitusi

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, menegaskan dasar konstitusional yang kuat melalui Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945.

“Kesehatan itu adalah bagian dari hak dasar manusia,” ujarnya.

Ghufron menjelaskan Indonesia memilih model berbasis kontribusi, bukan pajak seperti Inggris. Dana BPJS merupakan dana amanah milik peserta, bukan aset lembaga.

Penonaktifan PBI Mulai Berlaku Februari 2026

Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy, menyoroti dampak kebijakan penonaktifan peserta PBI yang mulai berlaku sejak Februari 2026.

“Masalah serius kini adalah sejak Februari 2026 ada kebijakan pemerintah untuk penonaktifan PBI BPJS bagi warga negara miskin ada 11 juta orang,” kata Badawi.

Akar masalah adalah ketidaksinkronan data antara Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan. Sistem administrasi PBI dinilai masih memiliki kerentanan dan memerlukan pembenahan menyeluruh.

Perluasan Kepesertaan Indonesia Lebih Cepat

Ghufron memaparkan keberhasilan Indonesia memperluas cakupan kepesertaan. Laju perluasan Indonesia lebih cepat dibanding Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. BPKS bertugas memastikan akses pelayanan kesehatan tanpa kesulitan keuangan.

“BPJS bertanggung jawab pada sisi demand sidenya. Yakni access without financial hardship atau tanpa kesulitan keuangan,” tegasnya.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Penutupan Permanen Perlintasan JPL 183 Rangkasbitung Mulai 4 September 2026

25 Agu 2026 - 03:55 WIB

Penutupan Permanen Perlintasan JPL 183 Rangkasbitung Mulai 4 September 2026

Wali Kota Bekasi Usir PKL dari Zona Publik Plaza Patriot

23 Agu 2026 - 01:22 WIB

Wali Kota Bekasi Usir PKL dari Zona Publik Plaza Patriot

Asap Karhutla Lumpuhkan Penerbangan di Kalimantan

22 Agu 2026 - 02:05 WIB

Asap Karhutla Lumpuhkan Penerbangan di Kalimantan

Kemenhub Kukuhkan 16 Inspektur Penerbangan dari Enam Negara dalam Pelatihan ICAO

22 Agu 2026 - 01:53 WIB

Kemenhub Kukuhkan 16 Inspektur Penerbangan dari Enam Negara dalam Pelatihan ICAO

Sertifikat Rumah Tak Kunjung Terbit, Warga Bekasi Mengaku Alami Kekerasan

22 Agu 2026 - 01:36 WIB

Sertifikat Rumah Tak Kunjung Terbit, Warga Bekasi Mengaku Alami Kekerasan
Trending di News